FAKTA RESIKO PEMBERIAN SUSU FORMULA (AIMI,2009)

Ketika menyusui secara eksklusif tidak lagi menjadi suatu ‘keharusan’, biasanya para ibu dengan mudahnya berpaling pada susu formula. Kode Etik Internasional tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI (breastmilk substitute) yang dikeluarkan oleh WHO ditujukan untuk memberikan informasi pada orangtua tentang bahaya kesehatan akibat penggunaan susu formula yang tidak tepat. Makalah ini memberikan beberapa contoh hasil penelitian bertahun-tahun tentang pentingnya menyusui serta resiko yang ditimbulkan akibat penggunaan susu formula.

REKOMENDASI WHO

WHO merekomendasikan para ibu untuk menyusui secara ekslusif selama 6 bulan, melanjutkannya dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dari bahan-bahan lokal yang kaya nutrisi sambil tetap memberikan ASI / menyusui sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. (World Health Assembly Resolution 54.2, 2001)

RESIKO PEMBERIAN SUSU FORMULA UNTUK BAYI DAN ANAK-ANAK

1. Meningkatkan resiko asma
• sebuah penelitian di Arizona, Amerika Serikat yang menggunakan sampel 1.246 bayi sehat menunjukkan hubungan yang kuat antara menyusui dan gangguan pernafasan pada bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di bawah umur 6 tahun yang tidak disusui sama sekali, akan memiliki resiko gangguan pernafasan tiga kali lebih besar dibandingkan dengan anak-anak yang disusui.
(Wright AL, Holberg CJ, Taussig LM, Martinez FD. Relationship of infant feeding to recurrent wheezing at age 6 years. Arch Pediatr Adolesc Med 149:758-763, 1995)

• Penelitian pada 2.184 anak yang dilakukan oleh Hospital for Sick Children di Toronto, Kanada menunjukkan bahwa resiko asma dan gangguan pernapasan mencapai angka 50% lebih tinggi pada bayi yang diberi susu formula, dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI sampai dengan usia 9 bulan atau lebih. (Dell S, To T. Breastfeeding and Asthma in Young Children. Arch PediatrAdolesc Med 155: 1261-1265, 2001)

• Para peneliti di Australia Barat melakukan penelitian terhadap 2602 anak-anak untuk melihat peningkatan resiko asma dan gangguan pernafasan pada 6 tahun pertama. Anak-anak yang tidak mendapatkan ASI beresiko 40% lebih tinggi terkena asma dan gangguan pernafasan dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan. Para peneliti ini merekomendasikan untuk memberikan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan untuk mengurangi resiko terkena asma dan gangguan pernafasan. (Oddy WH, Peat JK, de Klerk NH. Maternal asthma, infant feeding, and the risk for asthma in childhood. J. Allergy Clin Immunol. 110: 65-67, 2002)

• Para ahli melihat pada 29 penelitian terbaru untuk mengevaluasi dampak ‘melindungi’ terhadap asma dan penyakit pernapasan atopik lainnya yang diberikan oleh ASI. Setelah menggunakan kriteria penilaian yang ketat, terdapat 15 penelitian yang memenuhi persyaratan untuk dievaluasi, dan ke-15 penelitian tersebut menunjukkan manfaat/efek melindungi yang diberikan oleh ASI dari resiko asma. Para ahli menyimpulkan, tidak menyusui atau memberikan ASI pada bayi akan meningkatkan resiko asma dan penyakit pernafasan atopik. (Oddy WH, Peat JK. Breastfeeding, Asthma and Atopic Disease: An Epidemiological Review of Literature. J Hum Lact 19: 250-261, 2003)

2. Meningkatkan resiko alergi
• Anak-anak di Finlandia yang mendapatkan ASI lebih lama memiliki resiko lebih rendah untuk terkena penyakit atopik, eksim, alergi makanan dan gangguan pernafasan karena alergi. Pada usia 17 tahun, resiko gangguan pernafasan karena alergi pada mereka yang tidak mendapatkan ASI (atau mendapat ASI dalam jangka waktu pendek) adalah 65%, sementara pada mereka yang disusui lebih lama hanya 42%. (Saarinen UM, Kajosarri M. Breastfeeding as a prophylactic against atopic disease: Prospective follow-up study until 17 years old. Lancet 346: 1065-1069, 1995)

• Bayi yang memiliki riwayat asma/gangguan pernafasan karena memiliki riwayat alergi dari keluarganya, diteliti untuk penyakit dermatitis atopik dalam tahun pertama kehidupannya. Menyusui eksklusif selama tiga bulan pertama diakui dapat melindungi bayi dari penyakit dermatitis.
(Kerkhof M, Koopman LP, van Strien RT, et al. Risk factors for atopic dermatitis in infants at high risk of allergy: The PIAMA study. Clin Exp Allergy 33: 1336-1341, 2003)

• Pengaruh dari konsumsi harian ibu akan vitamin C dan E pada komposisi anti-oksidan di ASI sebagai zat yang melindungi bayi dari kemungkinan terkena penyakit atopik diteliti. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu yang menderita penyakit atopik dipantau selama 4 hari, kemudian diambil sampel ASI dari ibu yang memiliki bayi dengan usia 1 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi vitamin C sehari-hari pada makanan ibu dapat meningkatkan kadar vitamin C pada ASI. Semakin tinggi kadar vitamin C pada ASI dapat menurunkan risiko terkena penyakit atopik pada bayi.
(Hoppu U, Rinne M, Salo-Vaeaenaenen P, Lampi A-M, Piironen V, Isolauri E. Vitamin C in breast milk may reduce the risk of atopy in the infant. Eur J of Clin Nutr 59: 123-128, 2005)

3. Mengurangi/menghambat perkembangan kognitif
• Untuk menentukan dampak dari memberikan ASI eksklusif dengan perkembangan kognitif pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah, digunakanlah metode “Bayley scale of infant development” ketika bayi berumur 13 bulan dan “Wechler Preschool and Primary Scales of Intelligence” pada anak ketika berumur 5 tahun. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut adalah memberikan ASI secara eksklusif (tanpa tambahan vitamin/supplemen apapun) pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah terbukti memberikan keuntungan yang signifikan pada perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik yang lebih baik. (Rao MR, Hediger ML, Levine RJ, Naficy AB, Vik T. Effect of breastfeeding on cognitive development of infants born small for gestational age. Arch Pediatr Adolesc 156: 651-655, 2002)

• Menyusui terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang, karena memiliki pengaruh positif pada pendidikan dan perkembangan kognitif di masa kanak-kanak, tegas sebuah penelitian di Inggris. Analisis regresi yang dilakukan pada sebuah penelitian menyatakan bahwa menyusui secara signifikan berkorelasi positif dengan pendidikan dan kecerdasan. (Richards M, Hardy R, Wadsworth ME. Long-tern effects of breast-feeding in a national cohort: educational attainment and midlife cognition function. Publ Health Nutr 5: 631-635, 2002)

• 439 anak sekolah di Amerika Serikat yang lahir antara tahun 1991 – 1993 serta memiliki berat badan lahir rendah (di bawah 1,500 gram) diberikan beberapa jenis tes kognitif. Hasilnya, anak-anak yang memiliki berat badan lahir rendah dan tidak pernah disusui cenderung memiliki nilai/hasil tes yang rendah pada tes IQ, kemampuan verbal, kemampuan visual dan motorik dibandingkan mereka yang disusui/mendapatkan ASI. (Smith MM, Durkin M, Hinton VJ, Bellinger D, Kuhn L. Influence of breastfeeding on cognitive outcomes at age 6-8 year follow-up of very low-birth weight infants. Am J Epidemiol 158:1075-1082, 2003)

• Penelitian pada anak-anak yang lahir dari keluarga miskin di Filipina membuktikan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI sampai umur 12-18 bulan memiliki nilai yang lebih tinggi pada “nonverbal intelligence test”. Efek seperti ini akan lebih besar dampaknya pada bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (1.6 dan 9.8 poin lebih tinggi). Para peneliti menyimpulkan, bahwa memberikan ASI/menyusui dalam jangka waktu yang lama sangatlah penting, apalagi setelah mengenalkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), terutama untuk bayi berat badan lahir rendah. (Daniels M C, Adair L S. Breast-feeding influences cognitive development of Filipino children. J Nutr. 135: 2589-2595, 2005)

4. Meningkatkan resiko infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)
• Anak-anak di Brazil yang tidak disusui/mendapatkan ASI beresiko 16,7 kali lebih tinggi terkena pneumonia dibandingkan anak-anak yang semasa bayinya disusui secara eksklusif. (Cesar JA, Victora CG, Barros FC, et al. Impact of breastfeeding on admission for pneumonia during postneonatal period in Brazil: Nested casecontrolled study. BMJ 318: 1316-1320, 1999)

• Untuk menentukan faktor-faktor resiko dalam mendeteksi ISPA pada balita, sebuah rumah sakit di India membandingkan 201 kasus dengan 311 kunjungan pemeriksaan. Menyusui adalah salah satu dari sekian faktor yang dapat menurunkan tingkat risiko ISPA pada balita. (Broor S, Pandey RM, Ghosh M, Maitreyi RS, Lodha R, Singhal T, Kabra SK. Risk factors for severe acute lower respiratory tract infection in under-five children. Indian Pediatr 38: 1361-1369, 2001)

• Beberapa sumber yang digunakan untuk meneliti hubungan antara menyusui dan resiko ISPA pada bayi yang lahir cukup bulan. Analisis dari data-data yang diteliti menunjukkan pada negara-negara berkembang, bayi yang diberikan susu formula mengalami 3 kali lebih sering gangguan pernafasan yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 4 bulan atau lebih. (Bachrach VRG, Schwarz E, Bachrach LR. Breastfeeding and the risk of hospitalization for respiratory disease in infancy. Arch Pediatr Adolesc Med. 157: 237-243, 2003)

5. Meningkatkan resiko oklusi gigi pada anak
• Salah satu keuntungan menyusui adalah membuat gigi anak tumbuh rapih dan teratur. Penelitian yang dilakukan pada 1.130 balita (usia 3-5 tahun) untuk mengetahui dampak dari tipe pemberikan makanan dan aktivitas menghisap yang tidak tepat terhadap pertumbuhan gigi yang kurang baik. Aktivitas menghisap yang kurang baik (menghisap botol) memberikan dampak yang substansial pada kerusakan gigi/oklusi gigi pada anak. Terjadinya ”posterior cross-bite” pada gigi anak lebih banyak ditemukan pada anak-anak yang menggunakan botol susu serta anak-anak yang suka ‘mengempeng’. Persentase terkena cross-bite pada anak ASI yang menyusu langsung 13% lebih kecil dibandingkan mereka yang menyusu dari botol. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa semakin awal bayi menyusu dari botol dua kali lebih besar besar terkena risiko maloklusi/kerusakan pada gigi dibandingkan bayi yang menyusu langsung/tidak menyusu dari botol.
(Viggiano D. et al. Breast feeding, bottle feeding, and non-nutritive sucking; effects on occlusion in deciduous dentition. Arch Dis Child 89:1121-1123, 2004)

6. Meningkatkan resiko infeksi dari susu formula yang terkontaminasi
• Pada kasus tercemarnya susu formula dengan Enterobacter Sakazakii di Belgia, ditemukan 12 bayi yang menderita Necrotizing Enetrocolitis (NEC) dan 2 bayi yang meninggal setelah mengkonsumsi susu formula yang tercemar bakteri tersebut.
(Van Acker J, de Smet F, Muyldermans G, Bougatef A. Naessens A, Lauwers S. Outbreak of necrotizing enterocolitis associated with Enterobactersakazakii in powdered infant formulas. J Clin Microbiol 39: 293-297, 2001)

• Sebuah kasus di Amerika Serikat menyebutkan bahwa seorang bayi berusia 20 hari meninggal dunia karena menderita panas, tachyardia¸dan mengalami penurunan fungsi pembuluh darah setelah diberikan susu formula yang tercemar bakteri E-Sakazakii di NICU.
(Weir E, Powdered infant formula and fatal infection with Enterobacter sakazakii. CMAJ 166, 2002)

7. Meningkatkan resiko kurang gizi/gizi buruk
• Pada tahun 2003 ditemukan bayi yang mengkonsumsi susu formula berbahan dasar kedelai di Israel harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit akibat encephalopathy. Dua diantaranya meninggal akibat cardiomyopathy. Analisis dari kasus ini menyebutkan bahwa tingkat tiamin pada susu formula tidak dapat diidentifikasikan. Pada bayi yang mengkonsumsi susu formula berbasis kedelai sering ditemukan gejala kekurangan tiamin, yang harus ditangani oleh terapi tiamin.
(Fattal-Valevski A, Kesler A, Seal B, Nitzan-Kaluski D, Rotstein M, Mestermen R, Tolendano-Alhadef H, Stolovitch C, Hoffman C. Globus O, Eshel G. Outbreak of Life-Threatening Thiamine Deficiency in Infants in Israel Caused by a Defective Soy-Based Formula. Pediatrics 115: 223-238, 2005)

8. Meningkatkan resiko kanker pada anak
• Pusat Studi Kanker Anak di Inggris melakukan penelitian terhadap 3.500 kasus kanker anak dan hubungannya dengan menyusui. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengurangan tingkat resiko terkena leukemia dan kanker lain apabila seorang anak memperoleh ASI ketika bayi.
(UK Childhood Cancer Investigators. Breastfeeding and Childhood Cancer. Br J Cancer 85: 1685-1694, 2001)

• Studi pada 117 kasus acute lymphotic leukemia yang dilakukan di United Arab Emirates menunjukkan bahwa menyusui secara eksklusif selama 6 bulan atau lebih akan meminimalkan resiko terkena kanker leukemia dan lymphoma (getah bening) pada anak.
(Bener A, Denic S, Galadari S. Longer breast-feeding and protection against childhood leukaemia and lymphomas. Eur J Cancer 37: 234-238, 2001)

• Tidak menyusui adalah salah satu penyebab terbesar kanker pada ibu. Suatu penelitian mengemukakan tingkat kerusakan genetis yang signifikan pada bayi usia 9-12 bulan yang sama sekali tidak disusui. Para peneliti menyimpulkan bahwa kerusakan genetis berperan penting dalam pembentukan kanker pada anak atau setelah anak-anak tsb tumbuh dewasa.
(Dundaroz R, Aydin HA, Ulucan H, Baltac V, Denli M, Gokcay E. Preliminary study on DNA in non-breastfed infants. Ped Internat 44: 127-130, 2002)

• Sebuah penelitian yang menggunakan bukti-bukti atas dampak menyusui pada risiko terkena leukemia mempelajari 111 kasus yang 32 diantaranya mengemukakan hal tersebut. Dari 32 kasus ini dipelajari 10 kasus utama dan ditemukan 4 kasus yang mengemukakan hubungan antara menyusui dan leukemia. Kesimpulan yang diambil adalah: semakin lama menyusui/memberikan ASI pada bayi, semakin kecil risiko terkena leukemia. Mereka mencatat, diperlukan dana sebesar USD 1,4M tiap tahunnya untuk mengobati anak-anak yang terkena leukemia.
(Guise JM et al. Review of case-controlled studies related to breastfeeding and reduced risk of childhood leukemia. Pediatrics 116: 724-731, 2005)

9. Meningkatkan resiko penyakit kronis
• Penyakit kronis dapat dipicu oleh respon auto-imun tubuh anak ketika mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten. Ivarsson dan tim-nya melakukan penelitian terhadap pola menyusui 627 anak yang terkena penyakit kronis dan 1.254 anak sehat untuk melihat dampak menyusui pada konsumsi makanan yang mengandung protein gluten serta resiko terkena penyakit kronis. Secara mengejutkan ditemukan bukti bahwa 40% anak-anak bawah umur dua tahun (baduta) yang disusui/mendapatkan ASI berisiko lebih kecil terhadap penyakit kronis, walaupun mengkonsumsi makanan yang mengandung protein gluten. (Ivarsson, A. et al. Breast-Feeding May Protect Against Celiac Disease Am J Clin Nutr 75:914-921, 2002)

• Rasa terbakar pada saat BAB dan penyakit Crohn adalah penyakit gastrointestinal kronis yang sering terjadi pada bayi susu formula. Suatu meta-analisis pada 17 kasus yang mendukung hipotesis bahwa menyusui mengurangi resiko penyakit Crohn dan ulcerative colitis. (Klement E, Cohen RV, Boxman V, Joseph A, Reif s. Breastfeeding and risk of inflammatory bowel disease: a systematic review with meta-analysis. Am J Clin Nutr 80: 1342-1352, 2004)

• Untuk memperjelas dampak dari pemberian MPASI yang terlalu dini (contoh: dampak dari menyusui dibandingkan tidak menyusui; lama menyusui; dampak menyusui dan hubungannya dengan pemberian makanan yang mengandung protein gluten) pada resiko penyakit kronis, para peneliti melihat kembali literatur tentang menyusui dan penyakit kronis. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang menderita penyakit kronis hanya mendapatkan ASI/disusui dalam jangka waktu pendek. Sementara anak-anak yang disusui lebih lama resiko terkena penyakit kronis ini 52% lebih rendah. Para peneliti mendefinisikan 2 mekanisme perlindungan yang diberikan ASI, yaitu: (1) melanjutkan pemberian ASI/menyusui menghambat penyerapan gluten pada tubuh, (2) ASI melindungi tubuh dari infeksi intestinal. Infeksi dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh bayi sehingga gluten dapat masuk ke dalam lamina propria. Penelitian yang lain menyebutkan bahwa IgA dapat menurunkan respon antibody terhadap gluten yang dicerna. (Akobeng A K et al. Effects of breast feeding on risk of coeliac disease: a systematic review and meta-analysis of observational studies. Arch DisChild 91: 39-43, 2006)

10. Meningkatkan resiko diabetes
• Untuk memastikan hubungan antara konsumsi susu sapi (dan susu formula bayi berbahan dasar susu sapi) dan respon antibodi bayi pada protein susu sapi, peneliti di Italia mengukur respon antibodi pada 16 bayi ASI dan 12 bayi usia 4 bulan yang mengkonsumsi susu formula. Bayi susu formula meningkatkan antibodi beta-casein yang bisa menyebabkan diabetes type 1, dibandingkan dengan bayi ASI. Para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sekurangnya 4 bulan beresiko lebih rendah terhadap diabetes type 1, karena ASI dapat mencegah pembentukan anti-bodi beta-casein.
(Monetini L, Cavallo MG, Stefanini L, Ferrazzoli F, Bizzarri C, Marietti G, Curro V, Cervoni M, Pozzilli P, IMDIAB Group. Bovine beta-casein antibodies in breast-and bottle-fed infants: their relevance in Type 1 diabetes. Hormone Metab Res 34: 455-459, 2002)

• Studi yang dilakukan pada 46 suku Indian Kanada yang menderita diabetes tipe II dicocokkan dengan 92 jenis control penyakit diabetes. Kemudian dibandingkanlah resiko pre dan post-natal dari suku Indian yang disusui dan yang tidak disusui. Menariknya, ditemukan suatu fakta baru bahwa ASI dapat menurunkan resiko terkena penyakit diabetes tipe II.
(Young TK, Martens PJ, Taback SP, Sellers EA, Dean HJ, Cheang M, Flett B. Type 2 diabetes mellitus in children: prenatal and early infancy risk factors among native Canadians. Arch Pediatr Adolesc Med 156: 651-655, 2002)

• Penggunaan susu formula, makanan pengganti ASI dan susu sapi yang lebih dini pada bayi, adalah factor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terkena diabetes tipe I ketika dewasa. Sebayak 517 anak Swedia dan 286 anak Lithuania usia 15 tahun yang didiagnosa menderita penyakit diabetes tipe I dibandingkan dengan pasien non-diabets. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memberikan ASI secara eksklusif sekurangnya 5 bulan dan dilanjutkan sampai usia 7 atau 9 bulan (dengan MP-ASI) dapat mengurangi resiko terkena diabetes.
(Sadauskaite-Kuehne V, Ludvigsson J, Padaiga Z, Jasinskiene E, Samuel U. Longer breastfeeding is an independent protective factor against development of type I diabetes mellitus in childhood. Diabet Metab Res Rev 20: 150-157, 2004)

• Data yang didapatkan dari 868 anak penderita diabetes asal Cekoslovakia dan 1466 kunjungan dar pasien yang terkena diabetes, mengkonfirmasi bahwa resiko terkena diabetes tipe I dapat dikurangi dengan memperpanjang lama/periode menyusui. Menyusui bayi selama 12 bulan atau lebih mengurangi risiko terkena diabetes tipe I secara signifikan.
(Malcove H et al. Absence of breast-feeding is associated with the risk of type 1 diabetes: a case-control study in a population with rapidly increasing incidence. Eur J Pediatr 165: 114-119, 2005)

11. Meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular
• Untuk mempertegas hubungan antara gizi bagi bayi dengan resiko kesehatan setelah dewasa, peneliti dari Inggris mengukur tekanan darah pada sampel 216 remaja usia 13 sampai 16 tahun yang lahir prematur. Mereka yang mengkonsumsi susu formula pada awal kehidupannya memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mendapatkan ASI ketika bayi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pada bayi yang lahir prematur maupun cukup bulan, ASI dapat mengendalikan tekanan darah pada batas normal sampai mereka tumbuh dewasa.
(Singhal A, Cole TJ, Lucas A. Early nutrition in preterm infants and later blood pressure: two cohorts after randomized trials. The Lancet 357: 413-419, 2001)

• Sebuah penelitian di UK mengevaluasi tingkat kolesterol pada 1.500 anak dan remaja usia 13-16 tahun dan menyimpulkan bahwa ASI mencegah penyakit kardiovaskular karena dapat mengurangi kadar total kolesterol dan kadar LDL (low-density lipid cholesterol). Hasil penelitian ini menyebutkan, bayi yang memperoleh ASI terbukti dapat mengendalikan metabolisme pengolahan lemak di tubuh dengan baik, yang menyebabkan kadar kolesterol yang rendah dan menghindarkan dari resiko penyakit kardiovaskular.
(Owen GC, Whipcup PH, Odoki JA, Cook DG. Infant feeding and blood cholesterol: a study in adolescents and systematic review. Pediatrics 110:597-608, 2002)

• Sebuah studi di Inggris yang meneliti 4.763 anak-anak usia 7,5 tahun menyebutkan bahwa anak-anak berusia 7 tahun dan tidak pernah mendapatkan ASI memiliki kecenderungan tekanan systolic dan diastolic yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang mendapatkan ASI semasa bayinya. Ada pengurangan sebesar 0.2mmHg setiap 3 bulan apabila anak mendapatkan ASI eksklusif. Para peneliti menyarankan pemberian ASI eksklusif sekurangnya 3 bulan, karena terbukti dapat mengurangi 1% populasi orang-orang yang menderita penyakit tenakan darah tinggi, dan mengurangi 1,5% tingkat kematian penduduk karena darah tinggi.
(Martin RM, Ness AR, Gunnelle D, Emmet P, Smith GD. Does breast-feeding in infancy lower blood pressure in childhood? Circulation 109: 1259-1266, 2004)

12. Meningkatkan resiko obesitas
• Untuk menentukan dampak pemberian makanan bayi pada obesitas masa kanak-kanak, studi besar di Skotlandia meneliti indeks massa tubuh dari 32.200 anak usia 39-42 bulan. Setelah eliminasi faktor-faktor yang bias, status sosial ekonomi, berat lahir dan jenis kelamin, prevalensi obesitas secara signifikan lebih tinggi pada anak-anak diberi susu formula, mengarah pada kesimpulan bahwa pemberian susu formula terkait dengan peningkatan risiko obesitas.
(Armstrong, J. et al. Breastfeeding and lowering the risk of childhood obesity. Lancet 359:2003-2004, 2002)

• Dalam rangka untuk menentukan faktor yang terkait dengan pengembangan kelebihan berat badan dan obesitas, 6.650 anak-anak usia sekolah di Jerman yang berusia antara lima sampai 14 tahun diperiksa. Mengkonsumsi ASI ditemukan sebagai pelindung terhadap obesitas. Efek perlindungan ini lebih besar pada bayi yang secara eksklusif disusui ASI.
(Frye C, Heinrich J. Trend and predictors of overweight and obesity in East German children. Int J Obesitas 27: 963-969, 2003)

• Tindak lanjut aktif dari 855 pasang ibu dan bayi di Jerman digunakan untuk menentukan hubungan antara tidak menyusui dan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Setelah dua tahun tindak lanjut, 8,4 persen dari anak-anak kelebihan berat badan dan 2,8 persen sangat kelebihan berat badan: 8,9 persen tidak pernah disusui, sementara 62,3 persen disusui selama paling sedikit enam bulan.
Anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif lebih dari tiga bulan dan kurang dari enam bulan memiliki 20 persen pengurangan resiko, sementara mereka yang telah ASI eksklusif selama paling sedikit enam bulan memiliki 60 persen pengurangan resiko untuk menjadi gemuk dibandingkan kepada mereka yang diberi susu formula.
(Weyerman M et al. Duration of breastfeeding and risk of overweight in childhood: a prospective birth cohort study from Germany. Int J Obes muka publikasi online 28 Februari 2006)

13. Meningkatkan resiko infeksi saluran pencernaan
• Tujuh ratus tujuh puluh enam bayi dari New Brunswick, Kanada, diteliti untuk mengetahui hubungan antara pernapasan dan penyakit gastrointestinal dengan menyusui selama enam bulan pertama kehidupan. Meskipun angka pemberian ASI ekslusif rendah, hasil menunjukkan efek perlindungan yang signifikan terhadap total penyakit selama enam bulan pertama kehidupan. Bagi mereka yang disusui ASI , insidensi infeksi gastrointestinal adalah 47 per persen lebih rendah; tingkat penyakit pernapasan adalah 34 persen lebih rendah daripada mereka yang tidak disusui.
(Beaudry M, Dufour R, S. Marcoux. Relationship between infant feeding and infections during the first six months of life. J Pediatr 126: 191-197, 1995)

• Perbandingan antara bayi yang menerima ASI terutama selama 12 bulan pertama kehidupan dan bayi yang secara eksklusif diberikan susu formula atau disusui ASI selama selama tiga bulan atau kurang, menemukan bahwa penyakit diare dua kali lebih tinggi untuk bayi yang diberikan susu formula dibandingkan mereka yang disusui ASI.
(Dewey KG, Heinig MJ, Nommsen-Rivers LA. Differences in morbidity between breast-fed and formula-fed infants. J Pediatr 126: 696-702, 1995)

• Dukungan menyusui di Belarus secara signifikan mengurangi insiden infeksi gastrointestinal sampai dengan 40 persen.
(Kramer MS, Chalmers B, Hodnett ED, et al. Promotion of Breastfeeding Intervention Trial (PROBIT): a randomized trial in the Republic of Belarus. JAMA 285: 413-420, 2001)

14.Meningkatkan resiko kematian
• Dibandingkan dengan pemberian ASI eksklusif, anak-anak yang sebagian disusui ASI memiliki 4,2 kali peningkatan risiko kematian karena untuk penyakit diare. Tidak disusui dikaitkan dengan 14,2 kali peningkatan risiko kematian akibat penyakit diare pada anak-anak di Brazil.
(Victora CG, Smith PG, Patrick J, et al. Infant feeding and deaths due to diarrhea: a case-controlled study. Amer J Epidemiol 129: 1032-1041, 1989)

• Bayi di Bangladesh yang disusui secara sebagian atau tidak disusui sama sekali, memiliki resiko kematian 2,4 kali lebih besar akibat infeksi saluran pernafasan akut dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Pada anak-anak yang mendapatkan campuran lebih banyak ASI dibandingkan susu formula, resiko kematian karena pernapasan akut infeksi yang sama dengan anak-anak ASI eksklusif.
(Arifeen S, Black RE, Atbeknab G, Baqui A, Caulfield L, Becker S, Exclusive breastfeeding reduces acute respiratory infenction and diarrhea deaths among infants in Dhaka slums. Pediatrics 108: e67, 2001)

• Para peneliti meneliti 1.204 bayi yang meninggal antara 28 hari dan satu tahun dari penyebab selain dari anomali bawaan atau tumor ganas dan 7.740 anak-anak yang masih hidup di satu tahun untuk menghitung angka kematian dan apakah bayi tersebut mendapatkan ASI serta efek durasi-respons.
Anak-anak yang tidak pernah disusui memiliki 21 persen lebih besar resiko kematian dalam periode pasca-neonatal daripada mereka yang disusui. Semakin lama disusui, semakin rendah resikonya. Mendukung kegiatan menyusui memiliki potensi untuk mengurangi sekitar 720 kematian pasca-neonatal di Amerika Serikat setiap tahun. Di Kanada ini akan mengurangi sekitar 72 kematian.
(Chen A, Rogan WJ. Breastfeeding and the risk of postneonatal death in the United States. Pediatrics 113: 435-439, 2004)

• Penelitian penting dari Ghana dirancang untuk mengevaluasi apakah waktu yang tepat untuk inisiasi menyusui dan praktek menyusui berhubungan dengan resiko kematian bayi. Studi ini melibatkan 10.947 bayi yang selamat melewati hari kedua dan yang ibunya dikunjungi selama periode neonatal.
Menyusui dimulai pada hari pertama pada 71 persen bayi dan 98,7 persen dimulai pada hari ketiga. Menyusui dilakukan secara eksklusif oleh 70 persen selama periode neonatal. Resiko kematian neonatal empat kali lipat lebih tinggi pada bayi yang diberi susu berbasis cairan atau makanan padat selain ASI. Terdapat tanda bahwa respon-dosis terhadap resiko peningkatan kematian bayi dibandingkan dengan inisiasi menyusui yang tertunda dari satu jam pertama sampai tujuh hari. Inisiasi setelah hari pertama terkait dengan 2,4 kali lipat peningkatan risiko kematian. Penulis menyimpulkan bahwa 16 persen kematian bayi dapat dicegah jika semua bayi disusui sejak hari pertama dan 22 persen dapat dicegah bila menyusui dimulai selama satu jam pertama.
(Edmond KM, Zandoh C, Quigley MA, Amenga-Etego S, Owusu-Agyei S, Kirkwood BR. Delayed breastfeeding initiation increases risk of neonatal mortality. Pediatrics 117: 380-386, 2006)

15.Meningkatkan resiko otitis media dan infeksi saluran telinga
• Jumlah otitis media akut meningkat secara signifikan dengan menurunnya durasi dan eksklusivitas menyusui. Bayi Amerika yang diberikan ASI eksklusif selama empat bulan atau lebih mengalami penurunan 50 persen dibandingkan dengan bayi yang tidak disusui. Penurunan sebesar 40 persen kejadian dilaporkan berasal dari bayi ASI yang diberikan tambahan (makanan/susu formula) lain sebelum usia empat bulan.
(Duncan B, Ey J, Holberg CJ, Wright AL, martines M, Taussig LM. Exclusive breastfeeding for at least 4 months protects againsts otitis media. Pediatrics 91: 867-872, 1993)

• Antara usia enam dan 12 bulan insiden pertama otitis media lebih besar untuk bayi susu formula daripada untuk bayi ASI eksklusif. Untuk bayi ASI eksklusif insidensi ini meningkat dari 25 persen menjadi 51 persen dibandingkan kenaikan dari 54 persen menjadi 76 persen untuk bayi ang hanya diberikan susu formula. Para penulis menyimpulkan bahwa menyusui bahkan untuk jangka pendek (tiga bulan) akan secara signifikan mengurangi episode dari otitis media selama masa kanak-kanak.
(Duffy LC, Faden H, Wasielewski R, Wolf J, Krystofik D. Exclusive breastfeeding protects against bacterial colonization and day care exposure to otitis media. Pediatrics 100: E7, 1997)

16.Meningkatkan resiko efek samping kontaminasi lingkungan
• Sebuah studi Belanda menunjukkan bahwa pada usia enam tahun, perkembangan kognitif dipengaruhi oleh paparan pra-lahir terhadap poliklorinasi bifenil (PCB) dan dioksin. Efek buruk paparan pra-lahir pada hasil neurologis juga ditunjukkan dalam kelompok susu formula tetapi tidak dalam kelompok yang diberikan ASI. Meskipun terjadi paparan PCB mealui ASI, studi ini menemukan bahwa pada usia 18 bulan, 42 bulan, dan pada usia enam tahun suatu efek yang menguntungkan dari menyusui ASI terlihat pada kualitas gerakan, dalam hal kelancaran, dan dalam tes perkembangan kognitif.
Data memberikan bukti bahwa paparan PCB saat pra-lahir telah memberikan efek negatif secara halus pada neurologis dan perkembangan kognitif anak sampai usia sekolah. Penelitian ini juga memberikan bukti menyusui ASI melawan perkembangan merugikan dari efek PCB dan dioksin.
(Boersma ER, lanting CI. Environmental exposure to polychlorinated biphenyls (PCBs) and dioxins. Consequences for longterm neurological and congnitive development of the child. Adv Exp Med Biol 478:271-287, 2000)

• Penelitian yang lain dilakukan di Belanda untuk menentukan efek paparan pra- lahir terhadap poliklorinasi bifenil (PCB), mempelajari bayi yang disusui ASI dan bayi yang diberikan susu formula pada saat mereka berusia sembilan tahun.
Dengan mengukur latency pendengaran P300 (waktu reaksi terhadap rangsangan yang masuk, yang diketahui dipengaruhi secara negatif oleh PCB) mereka menemukan bahwa mereka yang diberi susu formula atau yang disusui ASI selama kurang dari enam sampai 16 minggu, mengalami latency yag loebih besar dan mekanisme melambat di tengah sistem saraf yang mengevaluasi dan memproses rangsangan. Di sisi lain, proses menyusui mempercepat mekanisme ini.
(Vreugedenhill HJI, Van Zanten GA, Brocaar MP, Mulder PGH, Weisglas – Kuperus, N. Prenatal exposure to polychlorinated biphenols and breastfeeding: opposing effects on auditory P300 latencies in 9-year old Dutch children. Devlop Med & Anak Neurol 46: 398-405, 2004)

RESIKO PEMBERIAN SUSU FORMULA UNTUK IBU

1. Meningkatkan resiko kanker payudara
■ Menyusui mengurangi resiko kanker payudara pada ibu dan infeksi, alergi, dan autoimun pada bayi. Kehadiran mediator dari sistem kekebalan bawaan ASI, termasuk defensins, cathelicidins, dan reseptor seperti-tol (TLRs), diekstrak dan dianalisa dari pecahan whey dari kolostrum dan susu masa-transisi dan susu matang (n = 40) dari ibu-ibu normal (n =18) dan dari ibu dengan autoimun atau penyakit alergi.
Para penulis menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh bawaan ASI sangat kompleks dan memberikan perlindungan bagi payudara ibu dan pengembangan jaringan saluran pencernaan bayi yang baru lahir.
(Armogida, Sheila A.; Yannaras, Niki M.; Melton, Alton L.; Srivastava, Maya D. Identification and quantification of innate immune system mediators in human breast milk. Alergi dan Asma Proc 25: 297-304, 2004)

■ Para peneliti dari Inggris mengevaluasi kemungkinan hubungan antara insiden kanker dan proses menyusui selama masa kanak-kanak. Studi ini melibatkan hampir 4.000 orang dewasa yang pada awalnya disurvei pada tahun 1937-1939. Data yang dimasukkan di meta-analisis menunjukkan bahwa tingkat kanker payudara didiagnosis pada wanita premenopause adalah sekitar 12 persen lebih rendah di antara wanita yang telah disusui saat bayi.
(Martin R, Middleton N, Gunnell D, Owen C, Smith G. Breastfeeding and Cancer: The Boyd Orr Cohort and a Systematic Review with Meta-Analysis. Jurnal Institut Kanker Nasional. 97: 1446-1457, 2005)

2. Meningkatkan resiko kelebihan berat badan
■ Sebuah kelompok dibentuk di Brasil, terdiri dari 405 wanita di enam dan sembilan bulan setelah melahirkan untuk menentukan hubungan antara penumpukan berat badan dan praktek menyusui. Ketika wanita yang memiliki 22 persen lemak tubuh dan menyusui selama 180 hari dibandingkan dengan mereka yang telah menyusui hanya 30 hari, setiap bulan masa menyusui mengurangi rata-rata 0,44 kg berat badan. Di kesimpulan para penulis mengkonfirmasi hubungan antara menyusui dan berat badan setelah melahirkan dan bahwa dukungan durasi yang lebih lama dapat memberikan kontribusi untuk penurunan penumpukan berat badan setelah melahirkan.
(Kac G, Benicio MHDA, Band-Meléndez G, Valente JG, Struchiner CJ. Breastfeeding and postpartum weight retention in a cohort of Brazilian women. Am J Clin Nutr 79: 487-493, 2004)

3. Meningkatkan resiko kanker ovarium dan kanker endometrium
■ Tidak menyusui telah dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker ovarium. Sebuah studi kasus terkontrol yang cukup besar Italia mempelajari 1.031 wanita dengan kanker ovarium epitelial dibandingkan dengan 2.411 wanita yang dirawat di rumah sakit yang sama untuk berbagai spektrum akut kondisi non-neoplastik, tidak terkait dengan faktor-faktor resiko yang diketahui untuk kanker ovarium. Hasilnya menunjukkan tren terbalik dengan resiko meningkatkan durasi menyusui dan jumlah anak yang disusui. Tambahan analisis oleh subtipe histologis menunjukkan bahwa peran proteksi dari menyusui akan lebih besar untuk neoplasma serius.
(Chiaffarino F, Pelucchi C, Negri E, Parazzini F, Franceschi S, Talamini R, Montella F, Ramazzotti V, La Vecchia C. Breastfeeding and the risk of epithelial ovarian cancer in an Intalian population. Gynecol Oncol. 98: 304 -308, 2005)

■ Untuk menentukan hubungan antara menyusui dan kanker endometrium, penelitian kasus-terkontrol di sebuah rumah sakit di Jepang membandingkan kasus wanita dengan kanker endometrium (155) dan kelompok yang terkontrol (96) dipilih dari para wanita yang menghadiri klinik rawat jalan untuk skrining kanker rahim. Para wanita ini diwawancarai untuk mengetahui praktik menyusui, penggunaan alat kontrasepsi, serta potensi faktor resiko kanker endometrium. Para penulis mengamati resiko kanker endometrium lebih tinggi pada wanita yang belum pernah menyusui, dan menyimpulkan bahwa menyusui mengurangi risiko kanker endometrium pada wanita Jepang.
(Okamura C, Tsubono Y, Ito K, Niikura H, Takano T, Nagase S, Yoshinaga K, Terada Y, Murakami T, Sato S, Aoki D, Jobo T, Okamura K, N. Yaegashi Tohoku. Lactation and risk of endometrial cancer in Japan: a case-control study. J Exp Med 208: 109-115, 2006)

4. Meningkatkan resiko osteoporosis
■ Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa baik kehamilan dan laktasi berhubungan dengan hilangnya kepadatan mineral tulang hingga ke lima persen, dan bahwa kehilangan tersebut akan pulih setelah penyapihan. Penelitian silang telah menunjukkan bahwa wanita dengan banyak anak dan periode total durasi laktasi memiliki kepadatan mineral tulang yang sama atau lebih tinggi dan risiko fraktur yang sama atau lebih rendah daripada teman sebaya mereka yang tidak pernah melahirkan dan menyusui. Tren ini telah diamati dan ditemukan di penampang studi kasus-terkontrol. Hubungan kausal masih belum ditentukan.
(Karlsson MK, Ahlborg HG, Karlsson C. Maternity and mineral density. Acta Orthopaedica 76: 2-13, 2005)

5. Mengurangi jarak alami kelahiran anak
■ Kuesioner digunakan untuk memperoleh data dari ibu-ibu menyusui di Nigeria untuk menentukan dampak dari praktik menyusui pada amenorrheoa laktasi. Pemberian ASI eksklusif yang dipraktekkan oleh 100 persen dari ibu-ibu yang pulang dari rumah sakit. Kemudian turun menjadi 3,9 persen setelah enam bulan. Menyusui dengan menuruti isyarat bayi dipraktikkan oleh 98,9 persen dari ibu tersebut. Dalam enam minggu 33,8 persen dari ibu kembali mengalami mensus dan meningkat menjadi 70,2 persen pada enam bulan. Durasi amenorrheoa laktasi lebih panjang di ibu yang menyusui eksklusif daripada mereka yang tidak. Tak satu pun dari 178 ibu-ibu yang berpartisipasi dalam survei menjadi hamil.
(Egbuonu Aku, Ezechukwu CC, Chukwuka JO, Ikechebelu JI. Breastfeeding, return of menses, sexual activity and contraceptive practices among mothers in the first six months of lactation in Onitsha, South Eastern Nigeria. J Obstet Gynaecol. 25: 500-503, 2005)

6. Meningkatkan resiko rheumatoid arthritis
■ Faktor-faktor resiko hormon dan reproduksi wanita dan dipelajari dalam kelompok 121.700 wanita yang terdaftar dalam Nurses ‘Health Study. Menyusui selama lebih dari 12 bulan berbanding terbalik dengan perkembangan rheumatoid arthritis. Efek ini ditemukan terkait dengan dosis. Mereka yang lebih singkat menyusui memiliki resiko yang lebih tinggi.
(Karlson E W et al. Do breastfeeding and other reproductive factors influence future risk of rheumatoid arthritis?: Results from the Nurses Health Study. Arthiritis & Rematik 50: 3.458-3.467, 2004)

7. Meningkatkan stres dan kecemasan
■ Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara praktik menyusui, stres, dan suasana hati dan tingkat serum kortisol, prolaktin dan ACTH (hormon adrenocorticotrophic) pada ibu, penulis membandingkan tanggapan emosional dari 84 ibu yang menyusui secara eksklusif, 99 ibu yang hanya memberikan susu formula dan 33 wanita sehat non pasca-melahirkan. Respon para ibu tersebut dipelajari pada empat sampai enam minggu pasca melahirkan.
Secara keseluruhan ibu menyusui memiliki suasana hati lebih positif, melaporkan peristiwa lebih positif, dan merasakan stres yang lebih sedikit daripada yang memberikan susu formula. Para ibu menyusui memiliki depresi dan kemarahan yang lebih rendah daripada yang memberikan susu formula dan kadar prolaktin serum berbanding terbalik dengan stres dan suasana hati pada ibu yang memberikan susu formula.
(Groer M W. Differences between exclusive breastfeeders, formula-feeders, and controls: a study of stress, mood and endocrine variables. Biol. Res Nurs. 7: 106-117, 2005)

8. Meningkatkan resiko dibetes pada ibu
■ Menyusui juga mengurangi risiko ibu diabetes tipe II dalam kehidupan di kemudian hari. Semakin lama durasi menyusui, semakin menurunkan insiden diabetes, menurut studi yag dilaksanakan di Harvard. Para peneliti mempelajari 83.585 ibu di Nurses ‘ Health Study (NHS) dan 73.418 ibu di Nurses ‘Health Studi II (NHS II), dan menentukan bahwa setiap tahun menyusui akan mengurangi resiko diabetes ibu sebesar 15 persen.
(Stuebe PM, Rich-Edwards JW, Willett WC, Duration of lactation and incidence of type 2 diabetes. JAMA 294: 2601-2610, 2005)

SUMBER:
AIMI, 2009

Risks of Formula Feeding: a Brief Annotated Bibliography, (INFACT Canada, 2nd rev. 2006), prepared by Elisabeth Sterken, BSc, MSc, Nutritionist

Risks of Artificial Feeding, compiled by dr. Jack Newman (rev. 2002), http://www.kellymom.com/newman/risks_of_formula_08-02.html

http://www.facebook.com/note.php?note_id=396237638929&id=1624298491

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: