Tak Ada Kesempatan dalam Kesempitan

Setiap peristiwa yang kita alami pastilah mengandung berjuta hikmah di dalamnya. Orang yang paling beruntung adalah orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialaminya. Seperti peristiwa yang pernah saya alami ini. Saya berharap, tidak hanya saya pribadi yang dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini, tapi kita semua dapat mengambil hikmah ini.

Peristiwa yang akan saya ceritakan ini terjadi saat saya kuliah semester 4, tepatnya tahun 2006. Untuk menambah uang saku, saya berdagang dari kos ke kos. Biasanya saya menitipkan makanan ringan (snack) dari kos ke kos yang dekat dengan kos saya. Selain makanan ringan, saya juga menjual pulpen pilot dan standard. Saya membeli secara grosir, sehingga saya bisa menjual dengan harga yang lebih murah dengan tetap mendapat keuntungan.

Setelah sekian lama saya berjualan pulpen, akhirnya teman-teman mengenal saya sebagai penjual pulpen dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan yang lain. Sampai suatu ketika, Mei 2006 Jogja terkena bencana alam gempa. Seperti biasanya jika terjadi bencana alam di suatu tempat, maka lembaga mahasiswa berduyun-duyun melakukan aksi sosial untuk membantu meringankan beban para korban bencana tersebut, baik berupa pemberian sembako, pakaian pantas pakai maupun peralatan sekolah. Kebetulan salah satu lembaga mahasiswa yang ada di fakultas saya, Badan Eksekutif Mahasiswa, melakukan aksi sosial dengan memberikan peralatan sekolah bagi anak-anak korban bencana alam yang ada di daerah Gantiwarno Klaten yang terkena bencana alam berbarengan dengan gempa Jogja. Karena saya cukup dikenal sebagai penjual pulpen di kalangan tertentu, teman saya yang kebetulan menjadi panitia bakti sosial memesan pulpen kepada saya dalam jumlah yang banyak. Saya tidak langsung menetapkan harga jual pulpen, tetapi saya melakukan perhitungan secara rinci terlebih dahulu agar saya bisa mendapatkan keuntungan dengan harga penjualan yang semurah mungkin. Yach, namanya juga penjual, jadi yang dipikirkan selalu saja keuntungannya..^_^ Saya biasanya membeli pulpen dari pusat grosir untuk tiap lusinnya Rp 6.500,-. Dan saya menjual dengan harga Rp. 800,- untuk tiap satu buah pulpen merk standard. Sehingga saya bisa mendapat keuntungan Rp.3.100,- untuk tiap penjualan satu lusin pulpen standard. Biasanya di toko-toko harga pulpen standard Rp.1000,- tiap buahnya sehingga tidak heran jika banyak teman yang membeli pulpen kepada saya. Nah, karena ini menyangkut aksi sosial, maka saya berusaha untuk menjual dengan harga rendah tapi tetap masih mendapatkan keuntungan. Saat itu yang ada dalam benak saya hanyalah keuntungan dan keuntungan..^_^ Setelah melakukan kalkulasi dengan berusaha menekan harga jual sedemikian rupa, maka saya menetapkan bahwa untuk harga satu gross pulpen, saya mengambil keuntungan Rp.20.000,-sehingga teman saya harus membayar Rp. 98.000,- untuk satu gross pulpen merk standard.

Ketika teman saya memesan pulpen, stok pulpen tinggal sedikit. Sehingga mau tidak mau saya harus kulakan. Biasanya saya kulak di toko grosir Al Ikhlas yang lokasinya ada di daerah Nonongan Solo. Saat itu saya belum tahu bahwa nama daerah itu adalah Nonongan. Untuk bisa sampai di Nonongan, jalur yang terpendek dan tercepat harus menggunakan bus Surya Kencana E. Itupun menghabiskan waktu sekitar 30an menit untuk bisa sampai di toko tersebut. Maklum, rutenya muter-muter kayak uler..^_^ Kebetulan bus ini juga hanya lewat di depan kampus UNS. Padahal gedung kuliah dan kos saya ada di belakang kampus. Kalau saya harus jalan dari belakang ke depan kampus untuk mencari bus ini, maka ini akan membutuhkan waktu sekitar 15 menitan. Tentu saja ini tambah sangat dan amat tidak efektif, mengingat aktivitas saya pada saat itu cukup padat. Pinjem motor? yach, saya kan ndak bisa motor..^_^ kalau naik motor, saya jagonya..(jago bonceng maksude..^_^), tapi kalau mengendarai motor..eits, tunggu dulu..saya harus banyak-banyak belajar lagi dech..^_^ Sudah bisa ditebak apa yang saya lakukan? Yups, saya minta diantar oleh teman saya. Jujur, saya tidak tahu jalur ke daerah itu (baca:Nonongan) kalau naik motor. Maklum masih baru di Solo..^_^ Pokoknya saya tahu letaknya. Dan dengan ilmu perkayongan (kayonge tah..^_^), saya pede untuk siap memberi petunjuk kepada teman saya..

” Anti sudah tahu tempatnya kan ukh?” tanya teman saya memastikan sambil menghidupkan motor dan siap meluncur dari belakang kampus. ”Insyaallah sudah, ukh. Pokoknya kita lewat jalan besar yang menuju pasar klewer, setelah itu kita belok kanan saja.”jawab saya MANTAP..sementara sepeda motor melaju. ”lho, bukannya kalau belok kanan itu jalan searah?”bingung teman saya dengan jawaban saya tadi selang beberapa lama setelah kami melaju. ”tapi kan kita bisa lewat di pinggir jalan sebelah kiri..”sanggah saya dengan pedenya. Sepeda motor sudah sampai di bangjo perempatan Pedaringan, sekitar 1 kilo dari kampus. ”lha emang tokonya ada di sebelah mananya ukh?”tanya teman saya lagi ”ya di daerah belokan kanan itu..”jawab saya mulai ragu.. ”oh ya sudah..”jawab teman saya pasrah.. Sepeda motor melaju di jalan Urip Sumoharjo depan RS. Moewardi, lalu sampai di perempatan Panggung, kami belok ke kiri terus melaju menuju pasar Gedhe, kemudian kami dengan kecepatan yang sedang belok ke kanan melintasi jembatan kecil. Selanjutnya membelok ke kiri ke arah pasar Klewer. Di depan gerbang pasar Klewer ada bundaran yang biasa dikenal dengan bundaran Gladak. Lalu kami belok ke kanan, kemudian melaju melalui jalan tikus yang ada di tepi jalan raya. Lho, kok ndak ada motor yang melaju di jalan tikus ini ya?bathin saya saat itu. Saat itu saya dihinggapi kekhawatiran, bukan karena melaju di jalan tikus ini, tapi karena beberapa kali sempat mau menabrak orang yang lalu lalang di jalan ini. Maklumlah, tepat di sebelah kiri jalan ini adalah kompleks pertokoan, terutama toko-toko bunga. Sepeda motor kami terus melaju dengan kecepatan cukup rendah. Bangjo di perempatan jalan raya sudah kelihatan, kita cukup belok ke kiri dari bangjo sekitar 50 meter kita akan sampai di toko Al Ikhlas.

” Priit..!” Oh My God, kami ditilang. Kami tidak sadar bahwa di perempatan bangjo itu ada pos polisi. ” mau kemana mbak?!”tanya polisi tegas ”mau ke toko Al Ikhlas Pak, letaknya di daerah situ” jawab saya terbata-bata sambil menunjuk tempat yang saya maksud. ”Kalian tahu, ini jalan searah??”tanya polisi itu lagi ”Kami tahu Pak, tapi kan kami tidak lewat di jalan raya.”bela saya penuh kekhawatiran. Pak polisi terus menginterogasi, dan pada akhirnya kami disuruh masuk ke Pos Polisi. Di dalam Pos itu kami dimintai keterangan terkait identitas pribadi dan denda/sanksi yang harus kami bayar atas kelalaian kami. Antara saya dan pak Polisi terjadi tawar menawar tentang besarnya denda yang harus kami bayar. Pak Polisi menyuruh kami membayar Rp.50.000,-. Jumlah yang cukup besar bagi saya. ”Kami kan mahasiswa Pak, masih baru lagi, jadi belum tahu daerah sini. Mosok kami harus bayar Rp.50.000,-?” rayu saya saat itu. Dengan berbagai argumen yang tidak terlalu alot, akhirnya kami hanya membayar Rp.20.000,-. Karena saya yang mengajak teman saya, maka saya lah yang bertanggung jawab membayarnya. Yach., DUA PULUH RIBU, jumlah uang yang sama dengan keuntungan yang akan saya dapatkan dari hasil penjualan pulpen..Saat itu saya tersadar, sungguh saya memang tidak boleh mengambil keuntungan di saat orang lain sedang susah. Sungguh saya tidak boleh memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan… Hmm, di sisi lain, saya juga berpikir sebenarnya uang yang para polisi dapatkan dari hasil tilang masuk kemana ya?? Lawonk besarnya denda saja bisa ditawar-tawar begitu.. kalau memang benar-benar masuk ke negara, seharusnya besarnya denda/sanksi sesuai dengan peraturan yang sudah ada dan tidak boleh ditawar-tawar walaupun rayuan para pelanggar lalu lintas begitu dahsyatnya..^_^ Ups, kok malah cerita ngalor ngidul..^_^ ”Ukh, afwan yach, anti jadi tidak mendapatkan keuntungan gara-gara kena tilang..” sesal teman saya setelah kami berbelanja pulpen di toko Al Ikhlas sambil siap-siap melaju. ”Ndak Papa ukh, mungkin belum rejekiku, anggap saja uang tadi untuk amal jariyah..”kata saya enteng sambil tersenyum malu menaiki motor. ^_^

Pesmi Arroyyan, 17 Desember 2008

Syehrazzad Elbandawiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: