Is Mathematic difficult?

Bagi kebanyakan siswa, Matematika adalah pelajaran yang sulit. Seperti halnya mayoritas siswa saya yang menganggap matematika adalah pelajaran yang paling sulit diantara pelajaran yang lain. Entah factor apa yang membuat mereka beranggapan demikian. Apakah karena gurunya, dalam hal ini saya, yang kurang bisa mengajar dengan baik, ataukah memang karena materi matematika yang terlalu abstrak untuk mereka pelajari sehingga timbul kesulitan dalam memahaminya?

Selama saya mengajar, hanya ada satu keluhan siswa mengenai gaya mengajar saya, “Ibu kalau mengajar terlalu cepat.” Begitu kata beberapa siswa. “Cara mengajar Ibu sudah baik, pertahankan ya, Bu.” Kata siswa yang lain. Ya, ternyata memang anggapan mereka yang mengatakan bahwa cara mengajar saya yang terlalu cepat juga hanya sebagian siswa saja. Artinya, gaya mengajar saya relative bukan penyebab utama kesulitan mereka dalam memahami matematika.

Saya mencoba untuk mengurangi ritme mengajar saya. Pelan tapi pasti. Ada saja keluhan yang keluar,” Bu, jam matematika jangan ditaruh di jam terakhir donk, kan kalau jam segitu, kita sudah lelah, ngantuk dan sebagainya, sehingga kita jadi sulit memahami.” Hmm, kalau sudah begini saya bingung harus mengatakan apa, karena memang ini adalah kewenangan sekolah. Dan pengubahan jadwal tentu bukanlah hal yang sederhana. Tetapi mengapa mereka mengeluhkan ini, toh semua jam Matematika ditaruh sebelum jam 12 siang. Okay, ini sebagai masukan untuk semester berikutnya.

Di awal semester, saya mengajar dengan metode ekspositori, ceramah dan tanya jawab. Sangat umum sebagaimana kebanyakan guru mengajar. Saat saya menerangkan materi, semua siswa katanya merasa faham. Untuk meningkatkan kualitas dan frekuensi belajar mereka, hampir setiap pertemuan, saya memberi pekerjaan rumah kepada mereka. Sampai saya kewalaahan untuk mengoreksinya. Saya berharap dengan adaanya pekerjaan rumah ini, para siswa menjadi giat belajar matematika dan dapat memahami matematika. Namun apa yang terjadi? Ternyata hasil ujian tengah semester mereka kebanyakan masih di bawah standar. Apa saya yang salah dalam menerapkan metode mengajar? Tetapi mengapa ada siswa yang mendapat nilai 100, 98, 97, dans sebagainya. Sementara sebagian besar mereka? Ini pertanyaan yang relative sulit saya jawab. Padahal dahulu, saat saya mengikuti Program Pengalaman Lapangan di SMA 1 Al Islam, saya menggunakan metode ini saat mengajar di kelas XI dan mayoritas siswa menyukai gaya mengajar saya. Bahkan mereka meminta saya untuk menjadi pengajar tetap di sana. Tidak hanya itu, mereka meminta saya membuka bimbingan belajar privat. Bahkan ada siswa yang langsung meminta saya menjadi guru les privatnya. Sehingga saya fakir, metode ini bisa membuat siswa faham.

Pasca ujian tengah semester, saya mengubah gaya mengajar saya. Para siswa saya bagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan nomor absen. Tiap kelompok diketuai oleh siswa yang nilai matematikanya paling bagus. Tiap kelompok tadi diminta untuk mendalami satu sub pokok bahasan dalam batasan waktu tertentu dan kelompok tersebut saya sebut sebagai kelompok pakar ( = pakar terhadap sub pokok bahasan yang menjadi bagiannya itu). Waktu yang saya sediakan hanya 30 menit. Selama rentangan waktu tersebut, para siswa, terutama para ketua kelompok, menanyakan hal-hal yang belum difahaminya. Saya bahagia sekali karena para siswa aktif bertanya pada hal-hal yang baru dipelajarinya. Apalagi tiap siswa dituntut untuk memahami dengan baik materi yang menjadi bagiannya. Setelah itu, tiap anggota dari tiap kelompok saya beri nomor. Banyaknya nomor tentu saja disesuakan dengan banyaknya anggota dalam kelompok. Setelah itu, tiap anggota dari kelompok-kelompok tersebut yang mendapat nomor yang sama bergabung menjadi satu kelompok.  Di dalam kelompok yang baru itu, tiap anggota mentransfer materinya masing-masing. Begitu seterusnya. Metode ini disebut Jigsaw. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga di Musholla.

Sebelum melangkah labih jauh, pernah suatu ketika saya menanyakan kepada siswa tentang kesan mereka terhadap pembelajaran yang baru ini. Mereka ternyata lebih menyukai gaya pembelajaran yang baru ini daripada sebelumnya. Katanya gaya ini membuat merek lebih faham dengan sendirinya. Ya, mengerti sekarang. Ketika mereka dapat memahami matematika karena usaha sendiri akan lebih berkesan daripada ketika mereka memahami matematika dari orang lain. Okay, sekarang saya akan membiarkan mereka memahami matematika dengan sendirinya. Jika mereka bertanya, saya akan menjawab dengan senang hati. Lalu apa yang terajdi ketika ujin akhir semester? Ternyata nilai mereka tidak lebih baik dengan nilai ujian tengah semester. What’s wrong?

‘Kesulitan’ yang dialami oleh siswa mungkin disebabkan oleh materi matematika yang memang abstrak. Dari rumus-rumus dan symbol yang ada dalam matematika saja sudah menunjukkan keabstrakan matematika. Orang yang mempelajari hal yang nyata saja masih relative kesulitan memahaminya, apalagi harus memahami sesuatu yang abstrak yang berisi symbol dan rumus. Orang tidak akan pernah tahu apa makna symbol dan rumus dari matematika tersebut jika dia tidak pernah belajar matematika. Yang belajar saja masih merasakan sulit apalagi yang tidak pernah mempelajari matematika. Inilah tugas kita para guru matematika, yakni bagaimana membuat hal yang abstrak itu manjadi sederhana sehingga anak didik kita mampu memahami matematika dengan baik.

4 Comments to “Is Mathematic difficult?”

  1. Wah,.. pengalaman bu guru ini menarik sekali. Ada beberapa hal yang perlu disadari sejak awal antara lain:

    1. Matematika bukan pelajaran yang sulit, namun tidak mudah untuk dipelajari, untuk itu perlu motivasi dan etos yang lebih besar untuk mempelajarinya.
    2. Karakteristik siswa itu berbeda-beda, apalagi karakteristik sebuah kelas, oleh karena itu tidak ada metode mengajar/belajar yang paling baik, yang ada adalah metode belajar/mengajar yang paling sesuai dengan karakteristik siswa atau kelas yang diajar. di sinilah, pengalaman berperan penting, kalau bisa buatlah journal tentang karakteristik siswa/ kelas dan metode yang tepat untuk diterapkan. dimasa yang akan datang itu akan sangat berguna sebagai referensi memilih strategi mengajar.
    3. Tes merupakan salah satu bentuk evaluasi, tinjau juga validitasnya sebelum digunakan.

    ok deh selamat berjuang ya, semoga sukses.

  2. terima kasih sekali Bu, atas masukannya.Semoga ke depan sya bs lebih memahami karakteristik siswa..^_^

  3. Lebih baik mengatakan matematika memang sulit tapi saya bisa
    daripada
    Saya tidak bisa karena matematika itu sulit

    Salam dari ibu gruru dari Tangerang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: