Memaknai Pergantian Tahun Baru

Detik demi detik berjalan, dan detik itu berganti dengan menit dan menit pun berganti dengan jam, bahkan jam menjelma menjadi hari yang terus silih berganti menjadi minggu, minggu manjadi bulan dan akhirnya menggiring kita menuju masa yang kita namai sebagai tahun. Tidak terasa tahun demi tahun terus bergulir, bahkan saat ini pun kita tengah memasuki awal tahun baru. Tahun baru 1431 Hijriyah dan tahun baru Masehi 2010. Sebagian besar orang memaknai datangnya tahun baru sebagai awal ‘penampilan’ baru, seperti gaya rambut baru, mode pakaian baru, dan sebagainya, yang semuanya hanya mementingkan aspek jasadiyah semata. Bahkan untuk menyambut tahun baru, mereka mengadakan berbagai acara yang jauh dari nilai-nilai syariat Islam, seperti konser Band yang menimbulkan banyak kemudhorotan, bahkan tidak sedikit yang menimbulkan tewasnya sejumlah orang dan sebagainya. Tahun baru bukan sekedar untuk euforia dengan menyaksikan gemerlapnya lampu, kembang api, dan berbagai hiburan lain tanpa makna. Lalu bagaimana seharusnya kita memaknai tahun baru ini?

Interospeksi Diri

Datangnya tahun baru seharusnya kita jadikan sarana bagi kita untuk menginterospeksi diri. Al Fudhail bin Iyadh berkata: “Sesungguhnya hari kemarin adalah contoh pelajaran, hari ini adalah waktu untuk beramal, dan esok adalah cita-cita.” (Siyaru ‘Alam an Nubala, Imam Adz Dzahabi). Oleh karena itu, Kekurangan dan kegagalan apa saja yang telah kita lakukan di tahun yang lalu  kita jadikan pelajaran untuk kita melangkah lebih baik di masa yang akan datang. Kekurangan, kesalahan maupun kegagalan itu kita kaji dan kita perbaiki, dan bukan untuk kita ratapi.  Ibarat Sebotol air susu yang tumpah, walaupun kita menangisinya, meratapinya sampai bengkak mata kita, dan menyakitkan hati kita, namun air susu itu tak akan pernah utuh kembali dan tak akan bisa kita nikmati sebagaimana mestinya. Justeru kita harus segera menyadari dan mengkaji, apa penyebab air susu itu tumpah. Dengan adanya kesadaran dan pengkajian ini, harapannya kita mampu mengantisipasi tumpahnya air susu untuk yang kedua kalinya.

Hasan Al-Basri mengumpamakan manusia bagaikan kumpulan hari-hari, Setiap hari yang pergi, kita seperti kehilangan bagian dari diri kita. Apa yang telah pergi tidak akan pernah kembali. Untuk itu, mari kita jadikan datangnya tahun baru sebagai semangat menyambut masa yang akan datang dengan penuh harapan, kita yakin bahwa sehabis gelap akan terbit terang, setelah kesusahan akan datang kemudahan dan kita yakin bahwa pagi pasti akan datang walaupun malam terasa begitu lama dan panjang. Karena roda kehidupan selalu berputar dan tidak mungkin berhenti. Imam Syafi’i pernah berkata: ”Memang sebenarnya zaman itu sungguh menakjubkan, sekali waktu engkau akan mengalami keterpurukan, tetapi pada saat yang lain engkau memperoleh kejayaan”.

Mari kita jadikan peralihan tahun sebagai momen untuk melihat kembali catatan yang mewarnai perjalanan hidup masa lalu, dengan melakukan renungan atas apa yang telah kita perbuat. Kita gunakan kesempatan ini untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup di dunia dan akhirat kelak.

Seperti yang dikatakan Imam Ghazali bahwa yang paling jauh di dunia ini dari kita adalah masa lalu karena apapun kendaraannya kita tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Makanya kita harus menjaga hari-hari kita, baik hari ini maupun yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan syariat Islam.

Menggapai Impian

Perjalanan waktu yang terasa begitu singkat membuat kita tidak mampu menggapai semua impian kita di masa yang lalu. Bahkan di masa sekarang pun, kita ternyata juga mempunyai mimpi yang ingin kita wujudkan. Oleh karena itu, kita perlu menulis ulang impian-impian yang belum kita capai dan kita berazam untuk mewujudkan mimpi itu di tahun ini. Sobat Bila tentu punya impian, bukan? Nah,. Saatnya kita menunjukkan diri bahwa kita mampu meraih mimpi-mimpi kita. Laa Taiasuu wa laa tahzanuu., janganlah berputus asa dan janganlah bersedih hati.  Allah Swt berfirman: “ Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imron: 139). Dengan usaha yang maksimal dari kita, yakinlah bahwa kita pasti akan mampu meraih apa yang kita impikan. Ingatlah firman Allah dalam QS. Arra’d ayat 11 yang mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai dengan mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Nah, selain dengan usaha, kita juga harus berdoa kepada Allah swt, memohon pertolongan kepada Allah. Rasulullah mengajarkan kepada ummatnya untuk selalu meminta kepada Allah meskipun untuk hal yang remeh, seperti tali sandal. Beliau pernah berpesan kepada Ibnu Abbas tentang pentingnya bergantung kepada Allah “ Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu butuh pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”(HR. Ahmad). Allah swt menegaskan dalam QS. Al Baqarah ayat 186 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Thoyyib,  marilah kita senantiasa berusaha dan berdoa kepada Allah swt semaksimal mungkin agar segala impian kita dapat terwujud. Dan kita jadikan tahun baru sebagai awal lahirnya semangat baru, yakni semangat untuk menggapai segala impian dan harapan, dan semangat untuk merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: