Kedepankan Khusnudzon

Dalam menjalankan amanah da’wah, banyak sekali aral yang melintang. Tidak hanya berasal dari luar tapi juga dari diri sendiri. Ketika aral itu berasal dari luar seperti kurangnya kesolidan antar sesama personil, kekurangan SDM, kekurangan dana, dan masih banyak faktor lainnya yang benar-benar menajdi kendala yang relatif besar, itu akan terkadang menjadikan semangat kita berkurang. Belum lagi aral yang datang dari dalam diri seperti kurangnya motivasi untuk bergerak. Semua aral itu bercampur menjadi satu yang terkadang relatif sulit untuk dilalui.

Salah satu aral yang relatif  sulit untuk dilalui adalah kesolidan antar personil dalam tim. Kita sering menjumpai rekan kerja kita mungkin tidak pernah datang rapat, tidak pernah datang saat kegiatan, tidak pernah merespon ketika kita mengirimkan sms atau bahkan acuh tak acuh ketika kita menghubunginya via telepon. Saudaraku, fenomena-fenomena seperti itu memang sering kita jumpai, bahkan sering membuat hati kita  merasa dongkol. Ketahuilah wahai saudaraku, ketika kita dituntut untuk bekerjasama dalam sebuah tim menjalankan amanah da’wah, yang sangat perlu kita sadari adalah bahwa antara yang satu dengan yang lain memiliki karakteristik dan tingkat loyalitas yang berbeda. Jangan pernah menuntut rekan kita untuk bekerja sesuai dengan kehendak kita, semau kita, seperti kita. Sadarilah, kita adalah individu yang berbeda. Di samping karakter dan tingkat loyalitas yang berbeda, mereka juga memiliki kesibukan dan aktivitas di luar yang berbeda, bahkan mungkin aktivitas dan kesibukan mereka melebihi kesibukan dan aktivitas kita.

Untuk masalah aktivitas atau kesibukan di luar misalnya, meraka memiliki amanah lain yang itu cukup menguras energi dan fikirannya, apalagi mereka merasa dibutuhkan di sana, sehingga perhatiannya pun lebih terpusat di sana. Alhasil, dalam tim kita, mereka tidak terlalu care n aware. Atau barangkali juga ia sedang fokus pada kuliah yang memang cukup menguras otaknya, sehingga jelas, ia tidak akan terlalu care n aware.  Buaknkah kita semestinya bangga memiliki saudara-saudara yang mempunyai prestasi akademik bagus? apalagi jika mereka ahli di bidangnya? bukankah masyarakat lebih membutuhkan orang yang ahli di bidangnya, daripada orang yang bersuara lantang namun tak mengerti apa-apa? Nah saudaraku, jauhkanlah prasangka buruk dari diri kita,  Jauhkanlah sikap putus asa, apalagi mutung dalam diri kita. Ambillah hikmah ketika kita ‘merasa’ bekerja sendiri, ketika kita ‘merasa’ lelah sendiri. Bukankah ketika kita merasa ‘sendiri’, kita berarti akan memiliki banyak pengalaman, kita akan terbiasa  melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan dan tentunya kita akan mampu mengambangkan potensi diri. Dan terhadap saudara kita yang mungkin tengah ‘sibuk’ di luar, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengingatkan mereka akan tanggung jawab mereka.

Demikian pula dengan karakteristik saudara kita yang mungkin kerap membuat hati kita dongkol. Ada tipikal orang yang ketika dimintai tolong langsung: “okay, siap Boz..!” dan dia memang benar-benar langsung mengerjakan. Ada juga, tipikal orang yang ketika dimintai tolong “okay, siap.” tapi pelaksanaannya lambreto lamborgini (meminjam istilahnya Nduk ^_^) yang artinya begitu lambat. Mungkin akan timbul perasaan ‘gemes’ apalagi kalau sudah dikejar deadline. Ada lagi rekan yang ketika kita mintai tolong selalu  menjawab tidak bisa. Ya karena mereka memang tidak bisa. “Tapi kok ndilalah selalu tidak bisa ya ketika dimintai tolong?” mungkin seperti itu kita membathin. Fenomena-febnomena seperti itulah yang mungkin kerap kita jumpai dan tidak sedikit yang akhirnya timbul dzon dalam hati kita, “sebenarnya dia niat nggak sich?” begitu mungkin kira-kira kita menanggapinya. Atau kita kerap menggerutu:” Aku udah capek dengan si Fulan/ah, masak tiap kali sms nggak pernah dibalas!”.  Saudaraku, Apapun kejadiannya, yakinlah bahwa pada hakikatnya mereka adalah orang-orang baik. Mereka tidak bermaksud untuk bersikap masa bodoh, mereka tidak bermaksud bersikap cuek. Apalagi sampai tidak membalas sms atau kurang respon dengan informasi yang kita sampaikan. Tapi keadaanlah yang menuntut mereka berlaku dan bersikap demikian. Misal, mereka tidak memiliki pulsa, atau mungkin mereka benar-benar sedang sibuk, atau, mereka sedang sakit namun mereka enggan bercerita kepada kita. Tidak sepantasnya kita berburuk sangka pada saudara-saudara kita. Bukankah Rasulullah  telah mengajarkan kepada kita untuk selalu berkhusnudzon kepada saudara-saudara kita? Seberat apapun amanah yang kita emban, nikmatilah. Yakinlah dengan keikhlasan dari kita, Allah akan membalas kita dengan syurgaNya.  Allahu’alam bish showab..

Advertisements

2 Comments to “Kedepankan Khusnudzon”

  1. Alhamdulillah Allah masih menempatkanku di lingkungan yang se-fikroh…meskipun keruh didalamnya. Karena tangan Allah bersama tangan jamaah…cemangat ya mbak Venus 🙂

  2. iya Mbak Mary, jai You..! Ganbatte..! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: