Dilema Seorang Tentor

Sungguh, relatif berat, beban yang harus dipikul oleh seorang tentor di sebuah lembaga bimbingan belajar dibandingkan dengan seorang guru dalam hal penguasaan kelas. Apalagi kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak.  Jika menjadi guru, para siswa cenderung lebih mendengarkan dan menghargai. Karena  ada yang mereka butuhkan, yakni mereka membutuhkan nilai yang kelak akan melekat pada buku raport mereka. Tidak demikian bagi tentor. Sebagian besar para siswa tidak mendengarkan bahkan terkesan kurang menghargai. Mereka memang sudah membayar, tetapi mereka tidak membutuhkan nilai dari tentor, karena toh tidak ada raport dalam lembaga bimbingan belajar.

Seperti halnya yang saya alami ketika saya mengajar di kelas 9 SMP. Selama saya mengajar matematika, baru pertama kali saya mengajar kelas SMP. Secara materi memang relatif lebih mudah dibandingkan dengan materi SMA atau SMK. Namun secara penguasaan kelas, mungkin kelas SMP lebih berat daripada di SMA atau SMK.  Mengingat masa-masa SMP, anak-anak cenderung lebih suka bermain dan kurang begitu serius.

Saat itu saya mengajar matematika menggantikan tentor yang berhalangan hadir. Saat masuk kelas, saya tidak merasakan adanya perasaan takut, grogi dan sebagainya, sebagaimana yang saya rasakan saat pertama kali mengajar kelas XII IPS. Awal pembelajaran, siswa yang hadir hanya 5-6 orang. Seiring dengan berjalannya waktu, para siswa terus berdatangan hingga memenuhi ruangan.

Semakin lama saya mengajar, semakin saya rasakan suara saya seperti tidak menjangkau seluruh ruangan. Bukan, bukan karena suara saya yang kecil. Bukan pula karena ruang yang terlalu luas. Ruang yang saya masuki itu cukup sempit sekitar 3 X 3 meter. Saya merasakan suara semakin tidak menjangkau karena mayoritas siswa berbicara sendiri. Yah, mereka membuat forum di dalam forum. Seolah-olah tidak ada seorang pun yang tengah bicara di depan kelas. Saya, tidak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali berusaha untuk menenangkan mereka. Awalnya mereka langsung memperhatikan instruksi saya, namun beberapa saat kemudian mereka melanjutkan aktivitas mengobrol mereka. Tentu saya berusaha untuk memahami mereka. Saya berusaha malakukan pendekatan kepada mereka(pedekate), saya menjadi sosok yang sok kenal sok dekat (SKSD), saya tanyai alamat asal mereka, sekolah mereka, sebagai wujud perhatian saya kepada mereka. Ya, mereka merespon. Tapi ternyata hanya saat itu saja. Seterusnya saat saya melanjutkan membahas materi, mereka kembali membuat forum dalam forum. Saya bingung harus bagaimana lagi. Mereka sepertinya memang tidak serius belajar.

Sempat  saya berfikir, mengapa saya haus ngoyo memberikan ‘sesuatu’ kepada mereka, toh mereka juga tidak membutuhkannya. Kasihan juga anak-anak yang serius belajar. Mereka kelihatan sekali merasa sangat terganggu. Bahkan satu anak terpaksa harus pindah duduk di bangku depan karena kondisi di barisan belakang sangat ramai. Saya harus bagaimana?

Saya berusaha mengendalikan mereka semampu saya. Di tengah-tengah pembelajaran, beberapa siswa ‘pembuat onar’ sekitar 4-5 siswa izin ke belakang. Saya mempersilakannya. Lumayan, kelas menjadi tidak seramai tadi. Pembalajaran menjadi lebih lancar. Seiring berjalannya waktu, saya mulai merasa tidak nyaman. Bukan karena kondisi tubuh, bukan pula karena kondisi kelas. Saya mulai merasa tdiak nyaman, karena para siswa yang tadi izin ke belakang ternyata sampai saat itu belum juga kembali. Padahal mereka sudah izin 30 menit yang lalu. Mereka kemana? Saat itu saya merasa kurang dihargai. Tapi apalah daya saya, Sekali lagi, saya sempat berfikir, mengapa saya harus ngoyo memberikan sesuatu kepada seseorang yang tidak membutuhkannya. Ya, mungkin pemberian saya akan mereka terima, tapi mungkin tidak akan dipakai atau bahkan ‘dimuntahkan’.

Saya tidak merasa sakit hati apalagi membenci. Sangat saya fahami bahwa mereka masih anak-anak. Yang saya fikirkan, bagaimana saya mampu memancing perhatian mereka. Saat pembelajaran hampir berakhir, saya teringat ‘jurus’ untuk menarik perhatian siswa. Yups, saya memanggil satu nama anak yang suka membuat keributan. Saya katakana padanya, “ini ada pertanyaan khusus buat kamu dan teman-temanmu. “ Akhirnya semua diam. Mereka nampaknya mulai penasaran dengan ‘pertanyaan’ yang akan saya ajukan. Setelah semua diam dan memperhatikan, akhirnya saya menyodorkan ‘pertanyaan’ yang saya janjikan tadi yang tidak lain adalah sebuah pertanyaan tebakan yang lucu, agak konyol tapi masuk akal. Mereka kelihatannya sangat tertarik dan mulai sibuk mencari jawab. Hmm..akhirnya..saya mampu juga memancing perhatian mereka. Batihin saya. Hehe..

Karena tidak ada yang bisa menjawab, akhirnya saya memberi klu dan mereka tertawa, bahkan meminta tebakan yang lain. Saya beri satu tebakan lagi dengan asumsi itu yang terakhir. Mereka kembali tidak bisa menjawabnya. Lalu saya beri klu, mereka tertawa lagi. Kembali, mereka meminta tebakan lagi. Okay, saya berikan satu lagi dengan harapan, ini benar-benar tebakan yang terakhir. Akhirnya saya berikan satu tebakan terakhir, mereka lagi-lagi tidak bisa menjawab, dan akhirnya setelah diberi klu..mereka kembali tertawa..namun ternyata mereka merengek meminta tebakan lagi, saya menolak untuk memberi tebakan lagi dan langsung mengakhiri pertemuan itu dengan salam. Saya tahu ada tanda kekecewaan dalam raut mereka. Dalam hati saya bahagia, saya telah berhasil memancing perhatian mereka dan saya yakin mereka akan merindukan saya..^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: