Mereka Memanfaatkan Waktu Demi Ilmu

Waktu ibarat pedang dalam kehidupan kita. Jika kita tidak bisa mengendalikan pedang, maka pedang yang akan melibas kita. Demikian juga waktu, jika kita tidak mampu mengendalikannya, maka ia yang akan mengendalikan kita. Maka dari itu, kita perlu berhati-hati terhadap waktu, terlebih lagi jika kita memiliki waktu luang. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda: “Ada dua keni’matan yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya yaitu ni’mat kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhori). Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Al Ashr ayat 1-2: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian..” Kita berdoa kepada Allah agar kita dijauhkan dari hal yang sia-sia, yang membuat kita merugi dunia akhirat. Na’uudzubillaahi min dzaalik.

Sudaraku, kita sering merasakan waktu begitu cepat berlalu, padahal belum banyak yang telah kita lakukan. Waktu yang tersedia antara kita dan orang lain sama, 24 jam. Tidak kurang dan tidak lebih. Tak dapat dipungkiri kalau kita sering berfikir, mengapa orang lain dengan tingkat kesibukan yang melebihi kita ternyata mampu berbuat lebih banyak dibandingkan dengan kita. Bahkan mereka memiliki pengetahuan yang lebih banyak daripada kita, dan ia lebih berhasil daripada kita. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berinterospeksi diri, apa yang telah kita lakukan dengan waktu yang kita miliki dan apakah kita sudah melakukan yang terbaik untuk orang lain dan diri kita sendiri. Sudahkah kita memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya?

Saudaraku, mungkin kita perlu bersama-sama belajar dari para generasi Salafushalih yang sangat berhati-hati dalam memanfaatkan waktu. Lihatlah bagaimana mereka tidak membuang sedikitpun waktu melainkan untuk hal yang bermanfaat, yakni menuntut ilmu.

Amir bin Abdi Qais
Beliau seorang tabi’in yang zuhud. Ada seorang pria berkata kepadanya, “Berbincang-bincanglah denganku.” Amin bin Abdi Qais menjawab:” Tahanlah matahari.” Artinya,” Cobalah hentikan perputaran matahari, jangan biarkan ia berputar, baru aku akan berbincang-bincang denganmu. Karena sesungguhnya waktu ini senantiasa merayap dan bergerak maju, dan setelah berlalu ia tak akan kembali lagi. Maka kerugian akibat tak memanfaatkan waktu adalah jenis kerugian yang tidak dapat diganti atau dicarikan kompensasinya. Karena setiap waktu membutuhkan amal perbuatan sebagai isinya.”
Al Mubarrid berkata: Saya tidak pernah mengetahui orang yang lebih bersemangat terhadap ilmu melebihi tiga orang: Al Jahiz, Al Fath bin Khalqan dan Ismail bin Ishaq Al Qadli.
Al Jahiz
Bila ada kitab di tangannya, beliau membacanya dari awal sampai akhirnya. Beliau menyewa took warraqin (orang-orang yang              menulis ulang kitab, dan tokonya disebut toko buku sekarang). Beliau bermalam di sana untuk membaca semua kitab itu.
Al Fath bin Khalqan
Belaiu membawa kitab dalam kantong bajunya. Apabila beliau bangun dari tempat duduknya untuk sholat atau buang air kecil atau      untuk keperluan lainnya, beliau membaca kitabnya hingga sampai ke tampat yang ingin ditujunya. Beliau melakukan hal tersebut        ketika kembali dari keprluannya.
Ismail bin Ishaq Al Qadli
Saya tidak pernah menemuinya, kecuali di tangannya ada buku yang dibaca. Atau, beliau membongkar buku-buku untuk mencari         buku yang akan beliau baca.
Abu Bakar Khayyath An-Nahwi menggunakan seluruh waktunya untuk membaca. Bahkan ketika berjalan, terkadang ia terjatuh di lubang atau ditabrak binatang di jalan karena tenggelam dalam bacannya.
Ibnu Uqail menceritakan ketekunannya dalam membaca dan meraih ilmu. Beliau berkata: Sesungguhnya tidak halal bagi saya untuk menyia-nyiakan sesaat pun dari waktuku tanpa faedah. Apabila lisan saya terhenti dari belajar, menghafal dan berdiskusi, mata saya terhenti dari membaca buku, maka saya gunakan pikiranku ketiak istirahat. Saya tidak bangun kecuali sudah terlintas dalam benakku apa yang akan saya tulis. Saya merasakan semangat belajar ilmu ketika berusia 80 tahun melebihi semangat yang saya rasakan ketika berusia 20 tahun.
Ibnu Rajab Al Hanbali berkata:
Imam Majduddin bin Taimiyah apabila beliau masuk WC untuk buang hajat, beliau berkata kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, “ Bacalah dan angkatlah suaramu! Agar aku bisa mendengarmu dari dalam.” Ibnu rajab menambahkan: Hal itu menunjukkan kuatnya semangat beliau dalam belajar ilmu dan meraihnya serta dalam menjaga waktunya.

Saudaraku, jika para Salafusshalih memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu, lalu kita memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk apa? Inilah pertanyaan penting yang perlu kita renungkan. Saudaraku, marilah kita bersama-sama merenungi hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal ra. bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda:
“Tidaklah kedua kaki manusia akan tergelincir kelak di hari kiamat, sampai ditanyakan empat aspek; tentang umurnya, untuk apa sajakah dia dihabiskannya; tentang masa mudanya, dalam apa sajakah masa muda itu dihancurkan; tentang hartanya, dari mana dia didapat dan dibelanjakan untuk apa; dan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dengannya” (HR. Al Bazzar dan Thabrani dengan sanad yang shahih). Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberi kemudahan kepada kita dalam memanfaatkan waktu luang untuk hal yang bermanfaat. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: