Aku yang Dimabuk Cinta

Bukan titik yang membikin tinta

Tapi tinta yang membikin titik

Bukan cantik yang membikin cinta

Tapi cinta yang membikin cantik

Sebagai manusia normal yang dikaruniai hati nurani, pasti kita  merasakan cinta. Karena cinta adalah fitrah, anugerah yang Allah berikan kepada manusia. Mencintai bukanlah dosa, namun permasalahannya adalah kita sering salah dan berlebihan dalam mengekspresikan cinta. Mengapa itu bisa terjadi? Karena tidak semua orang mengerti akan makna cinta. Lalu apa sebenarnya makna cinta dan bagaimana kita sebaiknya menyikapinya?

Makna Cinta

Cinta dalam bahasa Arab diistilahkan dengan Mahabbah. Mahabbah berasal dari kata habbah yang berarti benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Benih disebarkan di gurun pasir, bersembunyi di bumi, hujan turun, matahari menyinari. Namun benih itu tidak rusak oleh perubahan musim, malah tumbuh, berbunga dan memberikan buah. Demikian juga cinta, bilamana ia hadir dalam hati seseorang, ia tidak akan rusak oleh kehadiran dan ketidakhadiran, oleh senang atau susah, oleh keterpisahan maupun kesatuan.

Hamka menyebutkan bahwa cinta adalah perasaan yang pasti ada pada tiap diri manusia, ia seperti setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Hanya tanah yang menadahnya sajalah yang berlainan. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, maka tumbuhlah perilaku menyimpang dan hal-hal lain yang tercela. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, maka di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, dan segala hal yang terpuji.

Habiburrahman El Shirazy dalam Novelnya yang berjudul ‘Ketika Cinta Bertasbih’ menyebutkan bahwa cinta adalah kekuatan yang mampu mengubah duri jadi mawar, mengubah cuka jadi anggur, mengubah malang jadi untung, mengubah sedih jadi riang, mengubah setan jadi nabi, mengubah iblis jadi malaikat, mengubah sakit jadi sehat, mengubah kikir jadi dermawan, mengubah kandang jadi taman, mengubah penjara jadi istana, mengubah amarah jadi ramah, mengubah musibah jadi muhibah.

Tingkatan Cinta

Seorang guru yang tengah menyampaikan materi pelajaran di kelas, mendapati salah seorang siswanya tidak memperhatikan. Ia ternyata melamun, dan tatapannya kosong, sesekali ia tersenyum sendiri. Sungguh, tak seperti biasanya. Padahal ia adalah seorang siswa yang periang dan lincah bahkan sangat aktif di kelas. Ada apa gerangan? Apakah ia tengah dilanda mabuk cinta? Benarkah?

Hmm, Istilah mabuk cinta sungguh tidak asing di telinga kita. Kita memang merasakan cinta, namun apakah kita juga sudah sampai tahap dimabuk cinta? Ibnu Hazm Al Andalusy membagi cinta menjadi beberapa tingkatan: Pertama, Al Istihsan (menganggap baik) yaitu ketika seseorang melihat orang ynag dilihatnya kemudian ia mengungkapkan keindahannya. Kedua, Al I’jab (terpesona) yaitu adanya hasrat dari orang yang melihatnya untuk lebih dekat lagi dan ada keinginan kuat untuk berbincang-bincang dengan pihak yang dilihatnya. Ketiga, Al Ilfah (jinak atau adanya rasa tenteram dan damai) yaitu munculnya rasa kesepian yang dirasakan oleh pihak yang mencintai ketika pihak yang dicintai menghilang dari hadapannya. Keramahan dan kedamaian yang diberikan oleh pihak yang dicintai tidak bisa digantikan dengan keramahan orang lain. Dan yang keempat, Al Isyqun (mabuk cinta), yakni perasaan cinta yang menggebu saat pihak yang dicintai dapat menguasai semua ruang cinta dalam kalbunya. Pikiran orang dalam tingkatan ini akan selalu dipenuhi oleh cinta. Tidak ada bayangan yang hadir kecuali bayangan sang kekasih. Ia selalu menyebut dan memikirkannya. Man Ahabba Syai-an Fakatsuro dzikruhu, barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akan sering menyebutnya. Orientasi hidupnya menjadi berubah total. Ia turuti apa-apa yang menjadi kehendak dan yang membahagiakan sang kekasih.

Nah, kira-kira, kita sudah pada tahap apa nich saat kita mencinta? Ketika kita mencintai Allah dan Rasul-Nya, justeru kita sangat dianjurkan untuk sampai pada tahap terakhir, Al Isyqun. Tapi jika objek cinta kita adalah seseorang yang belum halal bagi kita, kita harus berhati-hati. Ketika kita baru masuk tahap pertama, itu adalah suatu kewajaran. Namun, jika kita telah memasuki tahap dua dan tiga, maka sudah saatnya kita tepis atau kita tindaklanjuti dengan menikah. Tentu sebelum perasaan itu berkembang menjadi penyakit yang bisa menjatuhkan izzah kita sebagai seorang muslim/ah. Jika kita belum mampu untuk menikah, maka kita bisa menepisnya dengan banyak berpuasa. Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam: “Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya.
(HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa`i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

Lebih jauh kita perlu menjaga pandangan, dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang positif dan yang bisa mendekatkan kita dengan Allah ‘Azza Wa Jalla.. Seseorang yang mencintai sampai tahap dimabuk cinta adalah mereka yang membiarkan dirinya terbuai nafsu. Mereka membiarkan cinta itu diekspresikan secara berlebihan dan berkembang tanpa ada follow up yang jelas dan nyata.

Wah, bahaya sekali ya jika kita ternyata masuk tahap dimabuk cinta. Apalagi jika sasaran cinta adalah orang yang belum halal bagi kita. Hmm, tidak heran ketika kita sering mendengar bahwa ada orang yang sakit sampai diopname hanya gara-gara cinta. Bahkan banyak kasus pembunuhan karena motif cemburu, dan tidak jarang kasus bunuh diri karena putus asa akibat orang yang dicintai pergi meninggalkannya. Mereka menggadaikan masa depan mereka, hanya karena cinta. Na’udubillahi Min dzaalik. Nah, marilah kita introspeksi diri, apakah sudah sampai sejauh ini kita merasakan cinta? Tentu kita tak ingin masa depan kita tergadaikan bukan?

Penawar Bagi Si Pemabuk Cinta

Ketika kita mabuk cinta kepada seseorang yang belum halal bagi kita, apakah ada obatnya? Mungkinkah orang yang dimabuk cinta nafsunya bisa kembali sadar? Bisakah orang yang sudah dimabuk cinta mengendalikan gejolak nafsunya sementara cintanya sudah menembus bagian kalbunya yang paling dalam? Jawabannya, tentu ada obat dan bisa pulih sebagaimana penyakit-penyakit lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia telah menyediakan obatnya, orang-orang yang tahu akan mengetahui obatnya dari pengetahuannya dan orang jahil tidak akan mengetahui obatnya karena kejahilannya.” (HR. Ahmad).

Nah, apa saja sich obat penawar bagi orang yang dimabuk cinta? Menurut DR Khalid Jamal, obatnya itu ada dua: Pertama, berusaha menghalangi semua unsur yang mendukung tumbuhnya mabuk cinta. Dan kedua, Mengisolasikan alias tidak melampiaskan. Adapun jalan untuk mendapatkan obat penawar tersebut, masih menurut DR. Kholid Jamal, adalah dengan menjaga pandangan, banyak berpuasa dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Marilah kita sedini mungkin senantiasa banyak berpuasa dan menjaga pandangan serta senantiasa mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Semoga kita mendapat limpahan rahmat dan ridho-Nya. Amiin. Allahuta’ala ‘alam Bish Showab.

Maroji’

DR. Kholid Jamal. 2007. Ajari Aku Cinta. Surakarta: Ziyad Books.

Novel ‘Ketika Cinta Bertasbih’, Habiburrahman El Shirazy.

rud1.cybermq.com

uzey.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: