Pengamen = Pengemis ‘Terhormat’?

Ide menulis tentang pengamen ini muncul ketika saya dalam perjalanan menuju suatu kota. Saat kaki saya pertama kali menginjakkan bus kota, sudah terlihat seorang pengamen. Selang beberapa saat, naik lagi serombongan pengamen. Setelah mereka selesai, mereka seperti biasanya meminta uang kepada para penumpang. Begitu seterusnya pemandangan itu berlangsung sampai dengan saya turun di kota tujuan. Jika saya hitung, tidak kurang dari 7 pengamen yang mengamen di bus yang saya tumpangi tadi, padahal jarak dari kota asal ke kota tujuan tidak begitu jauh.

Namanya pengamen, setelah lagu selesai, pasti meminta ‘bayaran’ kepada para penumpang. Ada penumpang yang memberikan, ada yang tidak. Bagi penumpang yang memberikan, tentu para pengamen merasa senang dan tak lupa mengucapkan terima aksih. Nah, bagi yang tidak memberikan, tidak sedikit pengamen yang berbuat ‘kasar’. Pernah saya melihat kejadian di depan mata saya, seorang pengamen menjotos mata salah seorang penumpang saat penumpang tersebut tidak mau memberikan uang. Entah hanya karena alasan itu ataukah ada alasan yang lain, kok sampai insiden seperti itu harus terjadi. Lebih jauh, saya pernah mendengar cerita dari teman saya bahwa tidak jarang pengamen yang sampai menarik-narik baju penumpang ketika penumpang tidak mau memberi uang. Bahkan, ada lagi yang dilakukan oleh para pengamen yang cukup membuat gerah para penumpang. Lewat syair yang dilantunkan, para penagmen kerap menyindir penumpang yang tidak mau memberikan uang, malah kadang mendoakan tidak selamat sampai tujuan. Memang kreatif, tapi tidak pada tempatnya. Sungguh, fenomena seperti ini cukup meresahkan masyarakat.

Fenomena para pengamen yang semakin menjamur di lingkungan kita, membuat kita kerap bertanya-tanya, apakah ‘profesi’ sebagai pengamen ini cukup prospektif? Sebelum itu, coba kita tilik beberapa alasan yang kerap muncul. Seperti, daripada menganggur, mending mengamen, daripada cari uang lewat jalan tidak halal, mending mengamen. Baiklah, apapun alasannya, mungkin kita bisa ‘memaklumi’ kondisi mereka yang mengharuskan mereka menjadi seorang pengamen.

Baik, kembali ke pertanyaan awal, apakah ‘profesi’ sebagai pengamen cukup prospektif? Teman saya pernah bercerita, sewaktu duduk di bangku SMA, teman saya dan beberapa temannya yang lain pernah berencana mengadakan baksos untuk para korban gempa. Tentu, ini membutuhkan dana yang lumayan besar. Salah satu cara yang ditempuh untuk mengumpulkan dana adalah dengan mengamen. Mereka satu rombngan mengamen. Ada yang bertugas memainkan gitar, ada yang memainkan harmonica dan ada yang menjadi vokalis tentunya. Ternyata mengamen tak semudah yang mereka bayangkan. Asal naik bus kota, kita bisa dengan mudah mengamen di sana. Tidak, tidak semudah itu. Ternyata, tiap pengamen itu punya ‘wilayah’ masing-masing. Jika wilayahnya itu dimasuki oleh pengamen lain, apalagi tanpa izin, maka akan berakibat fatal, karena tentu para pengamen yang merasa ‘memiliki’ wilayah itu akan bertindak, tidak menutup kemungkinan dengan cara-cara yang kasar. Tentu kita harus menyiapkan mental yang kuat. Berapa penghasilan yang diperoleh oleh teman-teman saya itu dalam sehari? Ternyata cukup menggiurkan. Tidak kurang 300000 mereka dapatkan dalam sehari. Pantas saja mereka yang pengangguran berduyun-duyun menyulap diri menjadi pengamen dadakan, walaupun dengan modal pas-pasan, alat musik seadanya, dan suara yang ‘seadanya’ juga. Dengan bekal yang serba seadanya ini, tentu bisa kita tebak bahwa kebanyakan penumpang malas untuk memberi uang, walau hanya 100 rupiah. Apalagi jika penampilan pengamen sangat tidak enak dipandang mata, maka semakin malaslah para penumpang untuk memberikan uang, walaupun sebenarnya uang mereka banyak. Coba kalau para pengamen memperhatikan kualitas suara, penampilan yang enak dipandang mata, mungkin akan banyak penumpang yang mau memberikan uang.

Melihat fenomena banyaknya pengamen yang berseliweran di bus, setiap akan melakukan perjalanan, tidak sedikit orang yang sengaja menyiapkan uang recehan sebanyak mungkin. Ketika memberi, mungkin mereka juga tidak asal dalam memberi. Jika mereka menikmati, bahkan menurut mereka suara penagmen itu berkualitas, maka mungkin mereka tidak segan-segan memberi uang lebih, apalagi jika penampilan pengamen rapi. Tapi jika pengamen asal-asalan, dengan penampilan yang kurang enak dipandang mata, tentu orang akan ‘mikir-mikir’ jika hendak memberi.

Tidak sedikit yang berfikir, termasuk saya, ketika para pengamen sudah mendapatkan uang, uang yang mereka dapatkan untuk keperluan apa? Sebuah tanda tanya besar yang kadang membuat kita ragu untuk memberikan uang kepada para pengamen. Bukan, bukan karena pelit, tapi melihat sisi kemanfaatannya. Jika uang itu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, okelah, tak ada salahnya kita membantu. Tapi jika uang itu digunakan untuk mabok-mabokan, berjudi, membeli rokok, (naudzubillah..) tentu secara tidak langsung kita telah mendukung perbuatan dosa mereka dan kita pun tentu akan mendapat dosa juga. Kalau sudah seperti ini, apa yang sebaiknya kita lakukan? Ini pertanyaan yang patut kita renungkan dan kita jawab, segera. Karena jawaban ini dibutuhkan ketika kita bertemu dengan para pengamen yang mungkin tiap hari kita jumpai di jalan.

Ada hal yang cukup mengusik fikiran saya ketika saya berjumpa dengan pengamen di bus. Menurut saya ini adalah hal yang kurang masuk akal, tentu akan terasa aneh kalau dirasakan. Begini, kita sedang dalam perjalanan, dengan niat pergi ke suatu kota. Tiba-tiba ada pengamen datang, tanpa komando dari kita, tanpa request dari kita, malah kadang tanpa kulonuwun, tiba-tiba menyanyikan beberapa lagu yang lagunya entah kita sukai atau tidak. Bahkan kita yang tengah asyik tertidur, menjadi terganggu karenanya. Lalu setelah selesai menyanyikan beberapa lagu, tiba-tiba menarik bayaran kepada para penumpang. Ironisnya, beberapa diantaranya tidak jarang yang menarik bayaran dengan paksa bahkan sampai terjadi insiden yang saya ceritakan di awal. Kalau seperti itu, apa tidak sama saja dengan mengemis? Lalu apakah saya salah jika saya mengatakan bahwa pengamen ‘sama saja’ dengan pengemis ‘terhormat’? istilah ini tentu saya tujukan untuk mereka yang mengamen tanpa kualitas, tanpa punya niat menghibur. Kalau kita menikmati nyanyian itu, mungkin, kita akan  membayar. Tapi kalau kita tidak menikmati, malah merasa terganggu, apa kita juga harus membayar? Apalagi kalau ada yang sampai meminta bayaran dengan paksa.

Ada fenomena lain tentang pengamen yang door to door, dari rumah ke rumah. Kita tidak mengundang mereka, mereka yang datang sendiri, dengan niat menghibur. Kita tidak menikmati lagu mereka, mengapa mereka meminta bayaran, anehnya, mereka tidak mau kalau dibayar cepek, mintanya minimal 500. Lho? Aneh bin ajaib. Oke, katanya niatnya menghibur, kok begitu dikasih uang langsung pergi, tanpa melanjutkan lagunya. Bukankah ini berarti sama saja dengan mengemis? kalau memang niat mereka menghibur, harusnya, walaupun tuan rumah sudah memberikan bayaran, mereka tetap melanjutkan lagunya sampai selesai. Jadi niatny benar-benar menjadi pengamen, bukan pengemis. So, dengan fenomena seperti ini, haruskah pengamen = pengemis ‘terhormat’? atau ada yang mau merubah paradigma itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: