Memahami Siswa

Banyak hal penting yang kita peroleh selama menjadi seorang guru. Tidak hanya ilmu yang bisa kita tularkan, lalu dengannya ilmu kita menjadi bertambah, tetapi lebih dari itu, kita menjadi berfikir bagaimana caranya mentransfer ilmu yang kita miliki agar bisa dimengerti oleh siswa. Selain itu juga, kita tidak hanya berkewajiban mengajar siswa, tetapi kita juga berkewajiban mendidik mereka. Oleh karena itu, kita perlu memahami karakter siswa.

Untuk dapat  memahami siswa, tentu kita harus belajar bagaimana keragaman karakter siswa. Karakter setiap orang berbeda, demikian juga siswa. Antara individu yang satu dengan yang lain pasti berbeda. Antara pria dan wanita berbeda, apalagi antara siswa SD, SMP dan SMA, pasti juga berbeda. Perbedaan karakter inilah yang menjadikan kita akan merasa tertantang untuk ‘menaklukan’ siswa. Dari sini kita benar-benar belajar menjadi orang yang berusaha untuk memahami orang lain, belajar untuk melatih kesabaran, dan belajar untuk menjadi orang tua atau calon orang tua yang baik..

Mari kita perhatikan tiga fase interaksi dengan anak menurut Imam Ali:

7 tahun pertama = perlakukan ia seperti raja, masa pembentukan tumbuh kembang otak menyerap informasi. Masa ini sama dengan masa anak-anak ketika berada di bangku sekolah dasar. Anak-anak dalam masa ini masih suka bermain. Bahkan mereka tidak segan-segan berlarian di kelas, walaupun kita sebagai guru sedang di depan kelas. Atau bahkan mungkin mereka tanpa malu-malu membuat kegaduhan di kelas ketika guru menerangkan pelajaran.  7 tahun kedua = perlakukan ia seperti tawanan perang dalam kedisiplinan.  Masa penanaman sikap. Disiplin disiplin disiplin. 7 tahun ketiga dan seterusnya = perlakukan ia sebagai teman atau sahabat.

Pakar mengatakan bahwa 7 sampai dengan 12 tahun adalah golden age. Usia emas. Saat itulah fase pembentukan sikap, perilaku, dan penanaman nilai yang paling penting. Marilah kita menengok beberapa tokoh Islam yang patut dijadikan contoh: Al Banna hafal Al Qur’an di usia 1O tahun, Qordhowi di usia 1O tahun, Imam Syafi’i 9 tahun, dan Imam Ahmad 7 tahun. Oleh karena itu, begitu pentingnya kita sebaga guru memahami karakter siswa.

Nah, apakah kita selama ini merasa bahwa siswa sulit memahami materi yang kita sampaikan? Ataukah, siswa merasa tidak nyaman dengan kita? Apakah kita selalu meluapkan emosi ketika mereka membuat kita murka? Mungkin saja ketidakmengertian mereka pada materi yang kita sampaikan karena kita yang kurang bisa memahami mereka, atau kurang nyamannya mereka dengan kita karena kita yang kurang mengerti karakter mereka. Mari kita berinterospeksi diri dan berusaha menjadi guru yang baik..^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: