Matematika Bukan Ilmu Pasti?

Semua orang mengatakan bahwa Matematika adalah ilmu pasti/eksak. Hal ini tentu bukan tanpa dasar. Coba kita lihat, 1 + 1 sudah pasti semua orang akan menjawabnya sama, yaitu 2.  Tidak bisa kita menjawabnya 3, 7 atau angka selain 2. Begitu juga jika 5 – 3 = 2, semua orang pasti akan menyetujuinya. Apa ada yang keberatan dengan jawaban itu? Saya percaya semua orang akan menjawabnya benar.  Saya berpendapat bahwa kebenaran yang ada di dunia ini bersifat relatif. Benar menurut sebagian orang, belum tentu benar juga menurut sebagian yang lain, tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya.

Ketika kebanyakan orang memandang bahwa Matematika adalah limu eksak, tentu ada sudut pandang lain yang perlu kita cermati yang itu menjadikan Matematika tidak lagi menjadi ilmu pasti. Menurut saya, Matematika merupakan ilmu pasti karena ada persyaratan atau kaidah atau aturan yang telah disepakati yang harus diterapkan. Jika tidak ada kaidahnya, tentu Matematika mungkin bukan lagi menjadi ilmu pasti. Bahkan  bukan lagi Matematika namanya jika tidak ada aturan/kaidah yang telah disepakati sebelumnya yang harus diterapkan dalam setiap pengerjaan soal Matematika. Bukankah Matematika adalah ilmu deduktif?

Sebagai contoh: apakah 1 + 1 = 2? Semua orang sebagaimana yang saya sampaikan di atas, pasti akan mengamininya. Bagaimana jika 1 orang ditambah dengan 1 kambing?. Bagaimana Anda menjawabnya? Apakah mutlak itu sama dengan 2 orang? Apa iya, kambing itu dianggap sama dengan 1 orang sehingga kita menjawabnya sama dengan 2 orang. Atau, apakah jawabannya 2 kambing? Apa iya, 1 orang itu kita anggap 1 kambing sehingga kita menjawabnya sama dengan 2 kambing? (Memangnya kita mau disamakan dengan kambing? ^_^ )

Contoh lain: 2 Apel ditambah 3 jeruk, apakah akan sama dengan 5 apel? Ataukah sama dengan 5 jeruk? Tentu kita akan sepakat mengatakan tidak. Lalu bagaimana kita bisa sepakat bahwa 1+1=2? Nah, kita sepakat bahwa 1 + 1 = 2 jika ada kaidah bahwa penjumlahan/penggabungan dua hal bisa dilakukan jika dua hal tersebut SEJENIS. Contoh: 1 orang ditambah 1 orang, kita akan sepakat menjawab sama dengan 2 orang. Dan 2 Apel ditambah 2 apel kita akan sepakat menjawab 4 apel atau 3 jeruk ditambah 2 jeruk kita akan sepakat menajwab itu sama dengan 5 jeruk. Contoh lain, 5 cm + 10 km, tentu kita tidak bisa langsung menjawab sama dengan 15 km atau 15 cm, tetapi kita harus menyamakan satuannya terlebih dahulu, akan kita samakan satuannya menjadi cm ataukah menjadi km. Setelah disamakan satuannya, barulah kita bisa menjumlahkannya. Nah, sekarang jika ada pertanyaan: 2 + 3 berapa? Tentu kita tanyakan dulu, apakah ada kaidah yang harus diterapkan? Ataukah tanpa kaidah? Jika ada kaidah (harus sejenis, red), tentu kita bisa langsung menjawabnya 5. Jika tanpa kaidah, kita cek dulu, itu 2 nya apa dan 3 nya apa. Matematika bukan ilmu pasti jika tidak ada kaidah atau aturan yang mengikatnya. Dan bukan Matematika namanya jika tidak ada kaidah atau aturan yang telah disepakati sebelumnya. So, what is the conclusion?

2 Comments to “Matematika Bukan Ilmu Pasti?”

  1. betul……..betul……….betul ……cikgu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: