Agar Tidak Mudah Stress Menjadi Guru

Apa yang menjadi keinginan seorang guru ketika mengajar suatu mata pelajaran? Nilai semua siswa harus tinggi. Siswa harus menguasai materi. Siswa harus mengerjakan tugas. Siswa harus memperhatikan ketika guru menerangkan. Siswa harus, siswa harus dan seabrek tuntutan/keharusan lainnya. Tahukah kita bahwa tuntutan itu mungkin membebani siswa? Dengan berbagai cara kita ‘memaksa’ mereka agar memahami pelajaran yang kita sampaikan. Mulai dari metode pembelajaran yang berganti-ganti, drill atau pemberian latihan yang begitu banyak, sampai dengan kita meluapkan ‘emosi’ ketika siswa yang tdiak mengerjakan tugas, atau ketika kita dapati siswa kita tidak juga memahami materi yang kita sampaikan, padahal materi itu tergolong mudah bagi kebanyakan orang.

Ketika kita sampai ngoyo saat menerangkan materi pelajaran, ditambah hari sudah siang, rasa lapar yang kian mengakar dan rasa dahaga yang semakin berkuasa, membuat kita semakin geregetan dengan siswa yang juga tidak faham terhadap materi yang kita sampaikan. ‘Begini saja kok tidak faham.’ Gerutu kita. Lalu di lain kesempatan, ketika kita mengadakan ulangan harian, kita dapati beberapa siswa yang mendapatkan nilai rendah atau di bawah standar, kita akan pusing tujuh keliling. ‘Bagaimana ini bisa terjadi? Lawong saya merasa menyampaikan materi begitu gamblang, apalagi soal yang saya tampilkan sudah saya ajarkan semua, mudah pula.’ Mungkin demikian rutukan kita. Melihat realita itu, kita menjadi stress, panik, mudah marah ketika di dalam kelas, dan kurang bersemangat ketika mengajar di kelas, apalagi ketika mendekati ujian akhir sekolah atau ujian nasional.

Lalu bagaimana sebaiknya kita bersikap? Salahkah jika sikap kita seperti ini? Pada hakikatnya, tidak ada yang salah dengan sikap kita. Tiap orang memiliki sikap yang berbeda ketika dihadapkan pada sebuah masalah. Namun apakah kita akan terus menerus stress, sedangkan masalah yang dihadapi ini terjadi hampir setiap hari. Tentunya kita tidak mau selalu dalam keadaan panik dan tegang setiap hari, bukan? Kita ingin menjalankan tugas kita sebagai guru dengan baik, tanpa banyak beban pikiran, tanpa stress, tetap enjoy, dapat terus berprestasi dan sebagainya. Kalaupun ada masalah, ya itu tidak menimbulkan stress yang berlebihan. Segalanya dihadapi dan dijalani dengan proporsional.

Nah, bagaimana sikap terbaik kita ketika menghadapi masalah yang berkaitan dengan akademik siswa agar kita tidak stress, sementara kita sudah berbuat semaksimal mungkin? Yang perlu kita lakukan adalah mengubah paradigma berfikir kita. Maksudnya adalah jika selama ini kita memiliki paradigma bahwa semua siswa adalah ‘sama’, sehingga kita menuntut siswa dengan tuntutan yang sama, maka paradigma itu seyogyanya coba kita rubah. Tanamkan kuat-kuat dalam benak kita bahwa setiap orang itu berbeda. Antara individu yang satu dengan yang lain memiliki potensi, bakat dan minat yang berbeda. Kita perlu lebih memahami bahwa setiap orang dikaruniai potensi, bakat dan minat yang berbeda. Karena karakter, bakat, minat dan potensi siwa yang berbeda, tentu kita tidak bisa menuntut siswa secara sama rata. Dari karakter, bakat, minat dan potensi siswa ini tentu akan memunculkan kecenderungan. Nah, jika siswa sudah tidak memiliki kecenderungan, tentu bagaimanapun metode mengajar kita, kita akan mendapati siswa tersebut tidak memperoleh nilai yang sesuai dengan harapan kita walaupun kita sudah menuntut lebih. Siswa sudah tidak memiliki minat terhadap pelajaran kita, mengapa kita paksakan mereka untuk memahami secara lebih? Siswa yang tidak berbakat bahkan tidak memiliki potensi terhadap pelajaran kita, mengapa kita paksakan mereka untuk menjadi ahli di pelajaran kita? Jadi kita tidak boleh ‘memaksakan’ siswa untuk mendapatkan nilai sesuai dengan targetan kita.

Dampak yang terjadi jika kita terlalu menuntut siswa adalah  kita akan menjadi down ketika tuntutan itu tidak dipenuhi oleh siswa. Mungkin selama ini tuntutan kita terhadap siswa terlalu tinggi, sehingga kita menjadi sering stress. Oleh karena itu, kita perlu mengubah (baca: mempercantik) tuntutan kita.

Bagaimana kita mengubah tuntutan terhadap siswa? tuntutan kita terhadap siswa adalah bukan lagi ‘kamu harus begini dan begitu’ tetapi tuntutan yang perlu kita berikan kepada siswa adalah rasa tanggung jawab siswa akan kewajiban yang harus ia tunaikan jika ia diberi sebuah amanah. Jika amanahnya adalah mengerjakan tugas, maka siswa berkewajiban untuk mengerjakan tugas. Jika amanahnya adalah mempelajari materi halaman sekian dan sekian, maka siswa berkewajiban mempelajari materi yang dimaksudkan tersebut, dan seterusnya. Adapun siswa akan menjadi pandai dan ahli pada mata pelajaran kita, itu perkara lain. Ini sudah masuk wilayah kecenderungan yang dilatarbelakangi oleh faktor bakat, minat, potensi dan sebagainya. Dan bagaimana cara menimbulkan kecenderungan siswa pada mata pelajaran kita, itu juga ada wilayah tersendiri dan perlu pembahasan tersendiri.

Dengan demikian, yang perlu kita tanamkan dalam benak siswa adalah bahwa mata pelajaran itu tanggung jawab siswa untuk mempelajarinya. Jadi yang kita tuntut dari siswa adalah tanggung jawab mereka untuk mempelajari materi dan bukan tuntutan untuk menguasai atau memahami materi secara lebih (yang diindikasikan dengan nilai mata pelajaran yang bagus, red). Jika dalam diri siswa sudah tertanam rasa tanggung jawab terhadap suatu materi pelajaran, maka siswa akan rajin belajar. Jika siswa sudah rajin belajar, maka siswa bisa mendapat nilai yang baik, minimal mencapai standar.

Dengan memahami hal sebagaimana di atas, kita menjadi tidak stress lagi ketika kita dapati siswa kita tidak mendapatkan nilai yang bagus. Kita akan mampu bersikap bijak ketika kita tidak bisa membuat seluruh siswa faham akan materi yang kita sampaikan. Yang perlu kita tekankan adalah bahwa para siswa harus menunjukkan rasa tanggung jawab mereka pada semua pelajaran yang memang harus mereka pelajari.

Jadi, agar tidak mudah stress, kita tidak boleh menuntut siswa secara berlebihan, mengingat bakat, minat, dan potensi para siswa berbeda. Boleh kita menuntut siswa, tapi tuntutan itu lebih pada rasa tanggung jawab siswa terhadap materi pelajaran yang memang harus ia pelajari.

Penulis: Nusrotul Bariyah, S.Pd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: