Depkeu Oh Depkeu

Saya teringat beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah kabar dari teman: “Mbak, departemen keuangan membuka lowongan kerja untuk pendidikan matematika.” Saya hanya bisa menimpali dengan jawaban datar-datar saja, tanpa antusiasme yang tinggi: ”oh ya?” Jawab saya ketika itu. Beberapa saat berlalu hingga saya nyaris tidak pernah memperbincangkan dan terfikirkan masalah lowongan itu. Dan suatu hari tiba-tiba ada teman satu angkatan yang juga dari pendidikan matematika juga mengirimkan sms menanyakan keikutsertaanku terkait cpns depkeu:

“Nus, kamu ikut cpns di depkeu ndak ?” dengan datar pula saya jawab sms itu: “ndak Mbak.”

Tak hanya sampai di situ, kerabat saya dua kali menghubungi saya secara pribadi, menanyakan kesediaan saya untuk mengikuti proses seleksi cpns di depkeu. Hmm, sepertinya lowongan cpns di depkeu pada khususnya atau cpns instansi lain pada umumnya, bagi kebanyakan masyarakat meruakan kesempaatn emas sehingga antusiasme mereka begitu tinggi. Apalagi masyarakat pedesaan yang mungkin masih mengelu-elukan jabatan PNS. Maka, ketika mendengar ada lowongan cpns di depkeu, apalagi jika dirinya atau kerabat dekatnya memenuhi syarat administrasi, berbondong-bondonglah mereka turut mendaftar dan akan mambujuk rayu kerabat dekatnya untuk turut mandaftar.

Beberapa kali pemberitaan yang sampai di telinga saya mengenai lowongan cpns di depkeu, membuat saya jadi  kefikiran untuk membahasnya dan segera melampiaskannya dalam sebuah goresan tinta, dan baru sekarang saya bisa menumpahkannya. Jadi ya jangan menganggap tulisan ini sebagai pelampiasan emosi semata, ya sekedar urun ide yang mungkin masih berceceran. kalau menurut saya. Memang, bekerja di depkeu bagi sebagian orang merupakan kebanggaan tersendiri. Bahkan, konon, gaji yang diterima pegawai di depkeu itu paling tinggi dibandingkan instansi pemerintahan yang lainnya. Orang biasa menyebutnya ‘lahan basah’. Lahan basah yang seperti apa, saya sendiri juga kurang begitu tahu. Di sini saya juga tidak ingin membahas masalah Gayus. Itu sudah di luar wewenang saya yang hanya orang awam, yang tidak tahu menahu kondisi internal di sana. Saya hanya ingin melihatnya dari kacamata saya, seorang wanita yang kebetulan diamanahi menjadi seorang guru, yang sangat awam dengan dunia depkeu. Jadi mungkin kurang pantas jika seorang ‘saya’ menjudge yang tidak-tidak terhadap depkeu. Sekali lagi, tulisan ini bukanlah pelampiasan emosi saya terhadap instansi manapun, termasuk depkeu.

Terkait dengan hal di atas, pertama, saya sebagai seorang guru. Memangnya kenapa ya kalau saya menjadi guru? Gajinya rendah? Begitukah? Oh ndak, saya justeru bangga dan bahagia menjadi guru. Biarlah gaji saya tak seberapa, namun justeru di tangan saya lah peradaban akan tercipta. Cie..bahasanya tinggi banget ya. Hehe.. Ya, karena memang hasil dari didikan seorang guru akan mampu membangun sebuah peradaban.

Lihatlah, bagaimana guru mendidik, tidak hanya satu dua orang, tapi berpuluh puluh orang. Dari satu orang itu akan membangun sebuah keluarga yang nanti akan melahirkan banyak generasi penerus. Arahan gurulah yang nantinya akan dijadikan pedoman bagi seorang siswa dalam kehidupannya. Segala perilaku, sikap, penampilan seorang guru akan dicontoh. Karena kita merasa akan ‘dicontoh’, maka kita sebagai guru akan berhati-hati dalam berpakaian, bersikap dan berperilaku. Kalau kita lihat, ada ndak, guru perempuan yang memakai celana? Walaupun dia tidak berjilbab, dia akan tetap memakai rok. Itu artinya, guru justeru menjadi sarana tarbiyah bagi kita.

Selain itu, Menjadi guru, kita menjadi terbiasa mendidik seorang anak. Kita jadi punya ilmu, bagaimana menghadapi seorang anak dengan karakteristik demikian dan demikian. Oleh karena itu, kita tak perlu berkecil hati ketika kita hanya menjadi seorang guru. Tidak banggakah kita ketika kita berhasil membawa anak-anak kita mencapai kesuksesan yang gemilang? Bahkan bisa mengantarkan mereka menjadi orang yang sukses, berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Nabi juga pernah bersabda bahwa salah satu pahala yang tidak akan pernah terputus adalah ilmu yang diamalkan/bermanfaat. Tentu, sebagai guru, pahala Allah dalam diri kita akan senantiasa mengalir, karena ilmu yang kita miliki senantiasa kita tularkan. Bukankah begitu? Sepakat ndak?

Yang kedua, sebagai seorang alumnus pendidikan yang memang dicetak untuk menjadi seorang guru-meskipun tidak semua kelak menjadi guru- idealnya, kita berkarir di dunia kependidikan. Saya kurang tahu betul, jika kita diterima di depkeu, kerja seperti apa yang akan dibebankan kepada kita. Apakah kita juga akan mengajar, ataukah kita menjadi seorang pegawai keuangan? Lalu ilmu yang selama ini kita gali selama di bangku kuliah bagaimana? Akan hilang begitu sajakah? Kalau memang niatnya ingin menjadi pegawai keuangan, kenapa harus mengambil kuliah di pendidikan. Saya melihat bagaimana susahnya masuk pendidikan matematika di suatu universitas negeri, seperti halnya di almamater saya. Banyak dari mereka yang ingin masuk jurusan pendidikan di suatu universitas negeri, namun karena berbagai factor seperti saingan yang amat ketat dan sebagainya, sehingga mereka gagal dan tidak memiliki kesempatan sebagaimana kita. Nah, kita yang sudah diberi kesempatan belajar di jurusan pendidikan, tentu harus bersyukur dan mengoptimalkan diri untuk dunia pendidikan. Itu idealnya.

Yang ketiga, sebagai wanita, saya secara pribadi merasa kurang setuju ketika seorang wanita yang seharusnya mengurus rumah tangga kok bekerja di kantor dari pagi sampai sore. Dan itu menghabiskan labih dari separuh usia kita. Ya, bisa dibilang hampir lebih dari separuh usia kita digunakan untuk bekerja dari pagi sampai sore. Dan kitapun baru bisa rehat, alias pensiun, setelah berumur 50 tahun lebih. Padahal usia hidup kita belum tentu mencapai 50 kan?.  Dari sini, saya berfikir, bagaimana dengan nasib anak-anak kita dan suami kita kelak? Siapa yang akan memperhatikan dan mengurusi mereka kalau kita sendiri sibuk dengan pekerjaan kita? Bayi kita yang seharusnya kita beri perhatian lebih, haruskah kita telantarkan? haruskah kita menitipkan bayi kita kepada pembantu, tetangga, atau tempat penitipan anak? Biar bagaimanapun, kasih sayang dan perhatian seorang ibu tidak akan pernah tergantikan.

Sekarang saya ingin bertanya, apakah cara pandang saya ini salah? Mungkin ada yang bertanya, : “lha, kamu sendiri bekerja dari pagi sampai sore, apa ndak sama saja?” iya, memang saat ini saya diberi amanah selain menjadi guru, juga menjadi waka kurikulum, yang mana saya dituntut untuk stand by di sekolah dari pagi sampai sore. Tapi itu untuk saat ini, saat saya belum menikah. Dan waka kurikulum atau guru tetap ini bukanlah jabatan yang mengikat saya sampai sumur hidup saya, kapanpun saya bisa mengundurkan diri. Dan tentu, saya akan mengundurkan diri ketika saya menikah nanti. Saya tetap akan menjadi guru, dan bukan berarti harus menjadi guru yang stand by dari pagi sampai sore kan? Bukankah begitu? Apakah Anda sepakat dengan ide saya?

One Comment to “Depkeu Oh Depkeu”

  1. cara pandang dan pola pikir penulis sangat benar.
    Seorang wanita alangkah baiknya, kalau mau bekerja atau beraktivitas cukup pagi sampai siang saja. Dan yang paling pas y, GURU. Guru TK-SLTA. Khusus, untuk sekolah fullday school, memang bagi wanita yang telah berkeluarga akan menjadi tantangan sendiri. Tapi jam kerja guru di sekolah umum biasanya pukul 07.00-14.00.

    Saya tidak setuju seorang wanita yang bekerja sampai malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: