Belajar dari keluarga seorang sahabat

Beberapa waktu yang lalu, saya bersilaturakhim ke rumah seorang sahabat di luar kota. Bukan untuk satu jam dua jam, tapi sampai dua hari tiga malam. Yah, saya lumayan tahu kebiasaan yang ada di dalamnya. Ah, betapa menyejukkan di pandang mata dan menentramkan di jiwa. Mata saya terasa sejuk karena melihat pemandangan senyuman yang begitu tulus dan ramah tatkala mereka menyambut hangat selama kedatangan saya, dan sungguh menentramkan jiwa karena hanya kelembutan dan keramah tamahan yang saya dapatkan di sana. Saya merasa seperti berada di rumah sendiri, dan mereka begitu menghormati dan menghargai saya.

Selama saya berada di sana, tak ada pertengkaran, tak ada percekcokan, yang ada adalah nuansa keharmonisan. Ketika salah seorang anggota keluarga hendak pergi keluar rumah, maka ia akan berpamitan, bersalaman dan mencium pipi kanan dan kiri. Subhanallaah, sungguh pemandangan yang sangat indah. Rasa cinta dan kasih sayang seolah senantiasa bersemayam di dalam hati mereka. Bahkan, ketika si kecil memecahkan piring pun, tak ada kata-kata makian, celaan bahkan cercaan, namun yang ada adalah sikap kelemah lembutan yang dipancarkan. “ Ndak apa-apa, ndak sakit kok.” Begitu jawab sang ibu ketika si kecil nyaris menangis. Pemandangan yangs sangat jarang saya temui.

Ya, nampaknya si kecil tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kasih sayang, perhatian dan kelemahlembutan.  Hasilnya? Si kecil menjadi anak yang lincah dan cerdas, juga berwawasan luas.  Ia tidak malu-malu atau takut ketika berinteraksi dengan orang asing. Tak jarang pula si kecil ‘ngeyelan’ istilah mereka. Ya, ngeyel karena kecerdasan yang dimilikinya. Wawasan si kecil begitu luas. Ketika saya tanya gedung tertinggi itu apa dan berada di mana, maka si kecil dengan sangat tangkas langsung menjawabnya. Ia pun memperoleh pengetahuan ini melalui proses yang menurut saya sangat unik dan luar biasa. Setiap ia memiliki rasa ingin tahu terhadap suatu hal, dia akan menanyakan kepada orang sekelilingnya, demikian yang dituturkan sahabat kepada saya. Biasanya ia tak puas dengan jawaban orang-orang yang di sekitarnya, maka ia akan langsung mencarinya di Google, halaman 1, 2, 3 dan seterusnya bahkan sampai halaman 20 sekalipun jika jawaban yang diinginkan belum juga ditemukan. Orang yang paling ia percayai akan jawabannya adalah ayahnya yang bekerja di luar daerah. Jika ia mengalami kesulitan, sementara ia tidak yakin akan jawaban orang-orang di sekelilingnya, setelah ia merasa capek dengan pencariannya lewat Google, maka ia akan menelepon ayahnya hanya untuk mengajukan sebuah pertanyaan. Subhanallaah..betapa luar biasa.

Saat orang-orang di sekitarnya merasa pesimis apakah si kecil akan diterima atau tidak di SD Al Azhar, SD yang cukup favorit di kota itu, ternyata tanpa diduga, si kecil meraih peringkat pertama saat ujian masuk SD Al Azhar. Sungguh prestasi yang amat membanggakan. Tentu kita tidak dapat menafikkan besarnya pengaruh lingkungan keluarga terhadap diri si anak, entah berpengaruh pada kepribadiannya maupun berpengaruh terhadap perkembangan otaknya. Memang faktor genetik/keturunan juga turut berpengaruh. Namun, apalah arti faktor keturunan jika apa yang dimiliki itu tidak bisa berkembang karena lingkungan yang kurang mendukung.

Di lingkungan daerah saya, ketika ada anak kecil memecahkan perkakas rumah tangga, maka orang yang melihatnya akan langsung menghardiknya. Ketika si kecil nakal, maka sumpah serapah pun akan dikeluarkan orang tuanya. Makian demi makian, cercaan demi cercaan yang sepatutnya kita jauhkan dari diri si kecil. Apalagi jika ketahuan si keil mencoret-coret tembok, maka si kecil tak akan bisa lepas dari amarah orang tuanya. Dan ini  membuat si kecil merasa katakutan, dan tentu, imbasnya adalah ia akan menjadi pribadi penakut dan rendah diri jika setiap hari selalu mendapatkan santapan hardikan dari orang-orang di sekelilingnya. Kecerdasan yang dimilikinya sebagai sebuah potensi yang mungkin luar biasa, tidak bisa muncul dan berkembang karena tekanan yang diterima si kecil. Nah, kenapa mesti dengan kekerasan, jika ternyata kita mampu menghadapi apapun dengan kelembutan?

Perbuatan yang dilakukan oleh si kecil tentu dilakukan tanpa sengaja. Masa bagi anak kecil adalah masa bermain. Ia akan menuangkan dan menggali ide kreatifnya pada setiap barang atau benda yang ada di hadapannya, seperti mencoret-coret tembok.  Bukankah jika kita membiarkannya, maka kita memberikan ruang kepada si kecil untuk mengembangkan otak kanannya? Lalu kenapa harus marah, toh, tembok bisa kita cat lagi. Mungkin masih banyak cerita pilu perlakuan orang tua yang kurang tepat terhadap anaknya yang tidak sepatutnya kita tiru. Kita mengharapkan anak kita kelak menjadi anak yang cerdas bukan? Mudah-mudahan kita mampu menjadi orang tua yang amanah, menjaga dan mendidik anak-anak kita dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

Tips dari Ibu Neno Warisman: Selalu keluarkan kata-kata positif, walaupun anak itu amat nakal, karena setiap kata yang dikeluarkan oleh kita selaku orang tuanya adalah doa bagi mereka. Begitu pula ketika anak tidur, maka ucapkanlah pada mereka kata-kata yang positif yang tidak mengandung kata negatif seperti ‘tidak dan ‘jangan’, seperti kata-kata berikut:” jadi anak sholeh ya Nak..” dan jangan mengatakan:” jangan nakal ya nak..” karena jika demikian, maka yang ada di alam bawah sadar adalah nakal-nya…

Advertisements

2 Comments to “Belajar dari keluarga seorang sahabat”

  1. love you coz Allah mbaku,
    doakan klgku senantiasa dilindungi Allah,
    semoga senantiasa bisa istiqomah di jalanNYA.
    love you….

  2. Iya, Amiin. Sama-sama Mbak..love u cz Allah..terima kasih ats sgala cinta dan kasih sayang yg kau berikan padaku. Semga tali ukhuwah ini snantiasa terjaga..^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: