Archive for ‘Guru Matematika’

24 May 2010

Telepon Tangan (baca: HP) di Sekolah


Peraturan dibuat untuk ditaati. Demikian bunyi petuah ‘ideal’ yang sering digaungkan di semua lembaga di seluruh pelosok tanah air yang di dalamnya menghendaki adanya keteraturan. Namun realitanya, nampaknya adanya peraturan bukan untuk ditaati, tetapi untuk dilanggar. Sebagaimana peraturan yang telah ditetapkan oleh sebuah lembaga seperti  sekolah demi menjaga ketertiban siswa.

read more »

3 May 2010

Agar Tidak Mudah Stress Menjadi Guru


Apa yang menjadi keinginan seorang guru ketika mengajar suatu mata pelajaran? Nilai semua siswa harus tinggi. Siswa harus menguasai materi. Siswa harus mengerjakan tugas. Siswa harus memperhatikan ketika guru menerangkan. Siswa harus, siswa harus dan seabrek tuntutan/keharusan lainnya. Tahukah kita bahwa tuntutan itu mungkin membebani siswa? Dengan berbagai cara kita ‘memaksa’ mereka agar memahami pelajaran yang kita sampaikan. Mulai dari metode pembelajaran yang berganti-ganti, drill atau pemberian latihan yang begitu banyak, sampai dengan kita meluapkan ‘emosi’ ketika siswa yang tdiak mengerjakan tugas, atau ketika kita dapati siswa kita tidak juga memahami materi yang kita sampaikan, padahal materi itu tergolong mudah bagi kebanyakan orang.

read more »

17 April 2010

Memahami Siswa


Banyak hal penting yang kita peroleh selama menjadi seorang guru. Tidak hanya ilmu yang bisa kita tularkan, lalu dengannya ilmu kita menjadi bertambah, tetapi lebih dari itu, kita menjadi berfikir bagaimana caranya mentransfer ilmu yang kita miliki agar bisa dimengerti oleh siswa. Selain itu juga, kita tidak hanya berkewajiban mengajar siswa, tetapi kita juga berkewajiban mendidik mereka. Oleh karena itu, kita perlu memahami karakter siswa.

Untuk dapat  memahami siswa, tentu kita harus belajar bagaimana keragaman karakter siswa. Karakter setiap orang berbeda, demikian juga siswa. Antara individu yang satu dengan yang lain pasti berbeda. Antara pria dan wanita berbeda, apalagi antara siswa SD, SMP dan SMA, pasti juga berbeda.

read more »

9 April 2010

Smart, Smart, Smart


Kebanyakan siswa lebih menyukai rumus/cara smart, bukan cara yang seharusnya ditempuh. Saya relative kurang menyukai penggunaan rumus smart karena cara ini menurut saya kurang pas. Sejak dulu saya tidak merasa cocok dengan adanya rumus smart. Tetapi sebagai seorang guru dan tentor, tentu saya tidak terang-terangan menyatakan bahwa saya tidak menyukai rumus smart. Mengapa saya tidak menyukai memakai rumus smart? Baiklah, akan saya jabarkan alasannya. Pertama, di dalam mempelajari matematika, kita memerlukan pemahaman yang utuh, konsep yang mendalam dan jeals. Jika siswa hanya diberi rumus smart, tentu mereka tidak akan pernah tahu konsepnya. Sehingga percuma mereka belajar matematika tetapi tidak tahu bagaimana konsepnya. Kedua, rumus smart hanya untuk beberapa soal yang setipe, jika beda soal, akan beda lagi rumusnya. Tentu ini justeru malah menyulitkan kita, kita menjadi semakin banyak menghafal rumus, dan bukan memahami rumus. Bukankah matematika itu bukan ilmu hafalan? Ketiga, bagi saya ini justeru tidak membuat saya faham matematika, tetapi matematika malah menjadi ilmu yang membingungkan. Memang ketika kita menghadapi ujian sekolah atau ujian masuk suatu perguruan tinggi dibutuhkan kecepatan untuk menyelesaikan soal-soal yang ada, namun bukan berarti rumus smart menjadi satu-satunya jalan untuk menyelesaikannya. Bukankah semakin sering kita latihan sola-soal, maka akan semakin cepat dan terampil dalam menyelesaikan soal-soal? Cara ini justeru membuat kita mampu menyelesaikan banyak soal matematika dengan beragam tipe, karena tentunya kita mendalami konsep matematika.